Selasa, 15 Desember 2009

A. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN ELEKTRIKAL
DAN PENANGKAL PETIR

I. PEKERJAAN SISTEM ELEKTRIKAL

1. U M U M
1.1. Penjelasan
Pekerjaan-pekerjaan yang tercakup dalam bidang keahlian ini meliputi :
• Menyediakan seluruh pekerjaan sistem listrik sehingga dapat beroperasi secara sempurna.
• Gambar-gambar, spesifikasi dan bill of quantity adalah merupakan bagian yang saling melengkapi dan sesuatu yang tercantum di dalam gambar dan spesifikasi bersifat mengikat.
• Seluruh pekerjaan instalasi listrik yang dilaksanakan harus dikerjakan oleh sub kontraktor instalatur yang dapat dipercaya, mempunyai reputasi yang baik dan mempunyai pekerja-pekerja yang cakap dan berpengalaman dalam bidangnya, serta perusahaan tersebut terdaftar sebagai instalatir resmi PLN dengan memegang pas instalatir kelas tertinggi (D) yang masih berlaku untuk tahun terakhir yang berjalan.
• Seluruh pekerjaan instalasi harus dikerjakan menurut "Persyaratan Umum Instalasi Listrik di Indonesia edisi terakhir tahun 2000 (PUIL) dan Peraturan PLN (SPLN)" sebagai petunjuk dan juga peraturan yang berlaku pada daerah setempat dan standar-standar/kode-kode lainnya yang diakui (VDE, DIN).
• Kontraktor harus menempatkan seorang sarjana atau yang dianggap ahli sebagai wakil dari perusahaan dan dapat memberikan keputusan-keputusan apabila sewaktu-waktu diperlukan. Konsultan Pengawas dapat meminta pergantian pengawas yang lain apabila dianggap tidak mampu.
1.2. Gambar-gambar
• Gambar-gambar rencana yang termasuk lingkup pekerjaan instalasi listrik dalam Dokumen Tender ini adalah gambar-gambar dengan nomor kode gambar EE.
• Pemborong wajib memeriksa design terhadap kemungkinan kesalahan/ ketidak cocokan baik dari segi besaran-besaran listriknya maupun pemasangan dan lain-lain. Hal-hal diatas harus diajukan dalam bentuk tertulis atau gambar pada waktu penjelasan tender/aanwijzing.
Sebelum pekerjaan diserahkan seluruhnya ataupun secara bertahap, pemborong wajib menyerahkan kepada Konsultan Pengawas sebanyak 3 (tiga) set gambar yang disebut "as built drawing" yaitu gambar dari semua material, peralatan dan instalasi sistem listrik, (1set kalkir 3 set blueprint)
139
• Gambar listrik menunjukkan keseluruhan besaran dan jumlahnya serta persyaratan dari keperluan instalasi, instalasi harus menyesuaikan kondisi setempat pada proyek.
• Gambar-gambar arsitektur dan struktur harus berkaitan dengan kontruksi dan detail akhir dari proyek, sedangkan gambar-gambar lainnya harus berkaitan dengan kontruksi detail yang berhubungan dengan masing-masing pekerjaan. Pemborong harus melengkapi seluruh keperluan lebih lanjut seperti "shop drawing" dan gambar-gambar detail.
• Diartikan bahwa bila ada ketidaksesuaian teknis maupun fisik maka hal ini harus disampaikan secara tertulis 4 hari sebelum dilakukan pekerjaan, untuk dilaporkan kepada Konsultan Pengawas / Perencana di lapangan sebagai langkah pelaksanaan, dimana biaya sudah dicakup pada unit price dari item tersebut.
1.3. Bidang Pekerjaan yang Dikerjakan
• Pemborong harus membantu mengurus penyambungan daya listrik PLN, sebesar ; sesuai dengan gambar perencanaan
Termasuk pengurusan administrasinya, semua biaya resmi akan dibayarkan oleh Pemilik.
• Penyediaan dan pemasangan kabel TM-20 kV dari gardu distribusi PLN (kWH meter) ke panel HVDP 20 kV dan ke trafo distribusi.
• Penyediaan dan pemasangan panel HVDP 20 kV.
• Penyediaan dan pemasangan trafo distribusi.
• Penyediaan dan pemasangan panel-panel :
- Panel LVMDP
- Panel-panel penerangan
- Panel-panel daya dan panel kontrol
• Pengadaan dan pemasangan busbar trunking
• Pengadaan dan pemasangan kabel distribusi tegangan rendah.
• Instalasi penerangan dalam, luar bangunan dan general purpose outlet/ stop kontak.
• Pengadaan dan pemasangan fixture dan armature penerangan lengkap dengan komponen dan accessoriesnya.
• Sistem pentanahan peralatan.
• Grounding sistem penangkal petir.
• Testing dan commissioning peralatan dan instalasi.
1.4. Klausal Yang Disebutkan
Apabila ada hal-hal yang disebutkan kembali pada bagian/bab/gambar yang lain maka ini harus diartikan bukan untuk menghilangkan satu terhadap yang lain tetapi malah untuk lebih menegaskan masalahnya. Kalau terjadi hal yang saling bertentangan antar gambar atau terhadap spesifikasi teknis maupun BQ, maka yang diambil sebagai patokan adalah yang mempunyai bobot teknis dan atau yang mempunyai bobot biaya yang paling tinggi.
1.5. Koordinasi Pekerjaan
Untuk kelancaran pekerjaan ini harus diadakan koordinasi dari seluruh bagian yang terlibat di dalam kegiatan proyek ini. Seluruh aktivitas
140
yang menyangkut di dalam proyek harus dikoordinir lebih dahulu agar gangguan dan konflik satu dengan lainnya dapat dihindarkan. Melokalisasi/memperinci setiap pekerjaan sampai dengan detail untuk mendapat persetujuan Konsultan Pengawas /Perencana.
1.6. Material dan "Workmanship"
Seluruh peralatan, material yang dipergunakan dalam pekerjaan ini harus baru dan material harus tahan terhadap iklim tropik. Seluruh pekerjaan harus dilaksanakan dengan cara yang benar dan setiap pekerja harus mempunyai ketrampilan yang memuaskan. Dimana latihan khusus bagi pekerja adalah diperlukan dan Pemborong harus melaksanakannya. Pemborong harus melengkapi surat sertifikat yang sah untuk setiap personal ahli, yang menyatakan bahwa personal tersebut telah mengikuti latihan-latihan khusus ataupun mempunyai pengalaman-pengalaman khusus dalam bidang keahlian masing-masing.
1.7. Daftar Material
Pada waktu mengajukan penawaran, Pemborong harus menyertakan/melam-pirkan "Daftar Material" yang lebih dahulu diperinci dari semua bahan yang akan dipasang pada proyek dan harus disebutkan pabrik, merk, manufacturer, type, lengkap dengan brosur/katalog. Ini adalah mengikat dan harus diajukan lengkap tidak boleh sebagian-sebagian.
1.8. Nama Pabrik / Merk Yang Ditentukan
Apabila pada spesifikasi teknis ini disebutkan nama pabrik/merk dari satu jenis bahan/komponen, maka Pemborong wajib menawarkan dan memasang sesuai dengan yang ditentukan.
Jadi tidak ada alasan bagi Pemborong pada waktu pemasangan menyatakan barang tersebut sudah tidak terdapat lagi pada pasaran ataupun sukar didapat dipasaran. Untuk barang-barang yang harus diimport, segera setelah ditunjuk sebagai pemenang, Pemborong harus sesegera mungkin memesannya pada keagenannya di Indonesia. Apabila Pemborong telah berusaha untuk memesannya, namun pada saat pemesanan bahan/merk tersebut tidak/sukar diperoleh, maka Perencana akan minta persetujuan Direksi Lapangan/ MK, menentukan alternatif merk lain dengan spesifikasi minimal yang sama. Jadi setelah 1 (satu) bulan penunjuk-kan pemenang. Pemborong harus memberikan foto copy dari pemesanan material lainnya, yang menyatakan bahwa material-material tersebut telah dipesan (order import).
1.9. Shop Drawing
Setelah persetujuan, dalam hal ini sebelum daftar spesifikasi material, Pemborong diharuskan menyerahkan shop drawing untuk disetujui Perencana. Shop drawings harus diberi catatan dari Pemborong, yang menyatakan bahwa apa yang dianjurkan sudah sesuai dengan spesifikasi dan kondisi ruang yang disediakan.
141
Data untuk setiap sistem harus menunjukkan pemasangan yang lengkap dari seluruh koordinasi komponen untuk peninjauan keseluruhan yang sebenarnya dari keseluruhan sistem, penyerahan sebagian-sebagian tidak akan diperhatikan. Gambar shop drawing harus dibuat sebanyak 4 (empat) set.
Shop drawing yang harus diajukan adalah :
1. Panel HVDP, LVMDP.
2. Panel-panel daya dan penerangan, outlet box dan lain-lain.
3. Trafo, layout kabel distribusi dan lain-lain.
4. Detail-detail pemasangan lampu.
5. Rencana instalasi penerangan, stop kontak setiap lantai.
6. Dan lain-lain yang diminta oleh Perencana/ Konsultan Pengawas.
Shop drawing dimasukkan untuk diperiksa/ disetujui perencana/ Konsultan Pengawas paling lambat 7 (tujuh) hari kerja terhitung setelah dikeluarkannya SPK.
1.10. Subsitusi
a Produk yang disebutkan nama pabriknya
Material, peralatan, perkakas, accessoriesnya yang disebutkan nama pabriknya dalam spesifikasi. Pemborong harus melengkapi produk yang disebutkan dalam spesifikasi, atau dapat mengajukan produk pengganti yang setara, disertai data-data yang lengkap untuk mendapatkan persetujuan Perencana/ Konsultan Pengawas sebelum pemesanan.
b. Produk yang tidak disebutkan nama pabriknya
Material, peralatan, perkakas, accessories dan produk-produk yang tidak disebutkan nama pabriknya dalam spesifikasi, Pemborong harus mengaju-kan secara tertulis nama negara dari pabrik yang menghasilkan-nya, katalog dan selanjutnya menguraikan data yang menunjukkan secara benar bahwa produk-produk yang dipergunakan adalah sesuai dengan spesifikasi dan kondisi proyek.

1.11. C o n t o h
Pemborong harus menyerahkan contoh-contoh dari seluruh material untuk mendapatkan persetujuan dari Perencana/ Konsultan Pengawas sebelumnya. Seluruh biaya ditanggung atas biaya Pemborong. Contoh-contoh tersebut (mock-up) dimasukkan paling lambat 14 (empat belas) hari kerja, terhitung setelah dikeluarkannya SPK.

1.12. P r o t e k s I
Seluruh material dan peralatan harus dengan sebenarnya dan diproteksi secara memadai oleh Pemborong, sebelum selama pengerjaan dan sesudah selesai instalasi (dalam masa garansi). Material dan peralatan yang mana mengalami kerusakan sebagai akibat dari pemasangan yang ceroboh dan proteksi yang tidak memadai tidak dapat diterima untuk instalasi proyek.

1.13. Acces Opening
142
Pemborong harus menyediakan access opening (bukaan-bukaan) untuk instalasi dan pemeliharaan dari instalasi listrik. Bukaan-bukaan (access opening) yang terdapat pada konstruksi bangunan seperti dinding-dinding, langit-langit, dan seterusnya begitu pembukaan harus dilengkapi dengan fasilitas penutup yang tepat bagi permukaan peralatan, penutup harus dapat dilepaskan dan dipindahkan tanpa mengakibatkan kerusakan pada permukaan yang berdekatan.

1.14. Pengecatan
Apabila peralatan-peralatan sudah dicat dari pabrik dan tambahan pengecatan di lapangan tidak dispesifikasikan maka seluruh permukaan yang cacat harus diperbaiki ataupun pengecatan kembali untuk memperoleh hasil pengecatan yang sempurna. Apabila peralatan belum dicat dari pabrik, Pemborong harus bertanggung jawab atas pengecatan tersebut.
Seluruh rangka, penutup, cover plate dan pintu panel listrik seluruhnya harus diberi cat dasar atau prime coat dan diberi pelapis cat akhir (finishing paint). Cat akhir ini dengan warna sementara ditentukan "abu-abu" kecuali kalau diadakan perubahan warna. Penentuan jenis warna abu-abu dan merk cat, sebelumnya harus dimintakan persetujuan pada MK/Perencana. Pengecatan dikerjakan dengan proses "stove ennameled" untuk lampu, sedangkan untuk panel listrik harus dibuat tahan karat dengan cara "galvanized cadmium plating" atau dengan "zinc chromatic primer" harus dicat dengan cat bakar.
1.15. Gambar Pemasangan Yang Sebenarnya
Pemborong harus mempergunakan secara baik satu set lengkap gambar-gambar di lapangan yang mana harus diberi tanda yang tepat pada lokasi dari seluruh jenis sistem outlet panel/kabinet, peralatan, pengkabelan dan seterus-nya dengan dimensi yang diambil dari patokan center colom (as colom). Pemborong harus melengkapi gambar pemasangan yang sebenarnya ("as installed") dari instalasi. Pemborong pada saat mendekati penyerahan (2 minggu sebelum penyerahan) harus menyerahkan gambar "as built drawing" yang menyatakan gambar-gambar seperti yang telah terpasang untuk diserah-kan pada Perencana/ Konsultan Pengawas sebanyak 4 (empat) set gambar cetak dan 1 (satu) set kalkir.

1.16. Pengetesan
Pemborong harus melakukan seluruh pengetesan seperti disebutkan dan harus melakukan percobaan seperti operasi sesungguhnya secara tepat dari seluruh sistem.
Peralatan, material dan cara bekerjanya peralatan yang mengalami kerusakan /cacat/ salah harus diganti /dibetulkan dan percobaan diulangi. Seluruh peng-kabelan, instalasi "keur" Pemborong harus bertanggung jawab untuk mem-peroleh persetujuan PLN bagi pemasangan sistem jaringan listrik dan seluruh biaya ditanggung atas beban Pemborong.
143
1.17. Data Suku Cadang
Sejak pengiriman dari bagian-bagian dan peralatan ke tempat lapangan Pemborong harus menyerahkan kepada Konsultan Pengawas daftar lengkap dari suku cadang (spare parts) dan menyerahkan untuk masing-masing bagian disertai dengan daftar harga satuan dan alamat supplier dan tambahan daftar dari suku cadang dan suplai yang secara normal harus dalam setiap pembelian atau suku cadang yang disebutkan dalam spesifikasi yang harus dilengkapi oleh pemborong dengan biaya dari Pemborong.
Lama pengetesan peralatan listrik 1 x 24 jam tanpa henti biaya pengetesan ditanggung Pemborong.
1.18. Peraturan Hak Patent
Pemborong harus melindungi Pemilik (owner) terhadap semua klaim atau tuntutan, biaya dan kenaikan harga karena bencana, dalam hubungan dengan semua dagang atau nama produksi, hak cipta, pada semua material, peralatan yang dipergunakan dalam proyek ini.
1.19. K e b e r s i h a n
Pemborong harus membersihkan seluruh kotoran/sampah dan sisa-sisa material yang tidak terpakai yang diakibatkan oleh pekerjaannya dan harus menyelesai-kan tiap bagian dari instalasi secara teratur serta rapi.
1.20. Built in Insert, Sleeves dan Perlengkapannya
Lengkapi insert, sleeves dan perlengkapan lainnya bagi keperluan built in dalam beton atau pekerjaan konstruksi.
1.21. Buku Petunjuk (Manual) dan Instruksi
Pemborong harus melengkapi buku petunjuk (manual) pemeliharaan dan manual cara mengoperasikannya, dan bahasa dari instruksi bagi seluruh bagian peralatan ini harus dalam bahasa Inggris dan Indonesia.
1.22. Kelengkapan Instalasi
Dalam spesifikasi teknis ini maupun di dalam penggambaran untuk suatu sistem atau suatu perangkat peralatan listrik, dimaksudkan adalah sebagai suatu sistem yang dapat beroperasi dengan baik sedemikian rupa sehingga apabila ada bagian atau komponen dari sistem instalasi yang tidak disebutkan di dalam spesifikasi teknis ini maupun pada gambar, maka ini berarti Pemborong harus mengadakan dan menjamin sistem/instalasi tersebut akan bekerja dengan baik.
1.23. Training
Mendidik operator atau orang-orang yang ditunjuk oleh pemilik untuk menjalankan, mengoperasikan pengujian dan maintenance seperlunya terhadap instalasi. Segala biaya-biaya tersebut adalah menjadi tanggungan Pemborong

2. TEKNIK INSTALASI

2.1. Instalasi Kabel/ Wiring
2.1.1. U m u m
Semua kabel yang dipergunakan untuk instalasi listrik harus memenuhi persyaratan PUIL/ LMK. Semua kabel/ wiring harus baru dan harus jelas ditandai mengenai ukurannya, jenis kabelnya, nomor dan jenis pintalannya. Semua kabel dengan penampang 6 mm² ke atas haruslah terbuat secara dipilin (stranded). Instalasi ini tidak boleh memakai kabel dengan penampang lebih kecil 2,5 mm² kecuali untuk pemakaian remote control.
Kecuali persyaratan lain, konduktor yang dipakai ialah dari type :
• Untuk instalasi penerangan adalah NYM, semua instalasi penerangan dan stop kontak menggunakan system 3 core dimana core yang ketiga merupakan jaringan pentanahan. Pentanahannya disatukan di dalam panel.
• Untuk kabel distribusi dan penerangan taman dengan menggunakan kabel NYFGbY atau NYY.
• Untuk instalasi lampu taman/ penerangan luar yang memotong jalan harus dalam conduit GIP.
Semua kabel instalasi dalam bangunan harus berada di dalam conduit PVC super high impact yang disesuaikan dengan ukurannya, cable tray, cable trench, kabel rack dan harus diklem.
Digunakan flexible conduit dengan bahan yang sama untuk menghubungkan instalasi ke masing-masing fixture lampu.

2.1.2. "Splice"/ Pencabangan
Tidak diperkenankan adanya "splice" ataupun sambungan-sambungan baik dalam feeder maupun cabang-cabang kecuali pada outlet atau kotak-kotak penghubung yang bisa dicapai (accessible).
Sambungan pada kabel circuit cabang harus dibuat secara mekanis dan harus teguh secara electris dengan cara-cara "solderless connector". Jenis kabel tegangan, jenis "compression atau soldered". Dalam membuat "splice" konektor harus dihubungkan pada konduktor-konduktor dengan baik, demikian sehingga semua konduktor tersambung tidak ada kabel-kabel telanjang yang kelihatan dan tidak bisa lepas oleh getaran.
Semua sambungan kabel baik di dalam junction box, panel ataupun tempat lainnya harus mempergunakan connector yang terbuat dari tembaga yang diisolasi dengan porselein atau bakelite ataupun PVC, yang diameternya disesuaikan dengan diameter kabel.

2.1.3. Bahan Isolasi
Semua bahan isolasi untuk splice, connection dan lain-lain seperti karet, PVC, asbes, gelas, tape sintetis, resin, splice case, compostion dan lain-lain tertentu itu harus dipasang memakai cara yang disetujui menurut anjuran perwakilan pemerintah dan atau manufacturer.
2.1.4. Penyambungan Kabel
• Semua penyambungan kabel harus dilakukan dalam kotak-kotak penyam-bungan yang khusus untuk itu dengan menggunakan "Cell
145
Pack-M. 11-17 with Cast Resin Type Eg", Junction Box harus hampa udara dan rigid pada penyambungan kabel TR.
• Kabel-kabel harus disambung sesuai dengan warna-warna atau namanya masing-masing dan harus diadakan pengetesan tahanan isolasi sebelum dan sesudah penyambungan dilakukan. Hasil pengetesan harus tertulis dan disaksikan oleh Konsultan Pengawas.
• Penyambungan kabel tembaga harus mempergunakan penyambungan-penyambungan dari ukuran-ukuran yang sesuai.
• Penyambungan kabel yang berisolasi PVC harus diisolasi dengan pita PVC/protolen yang khusus untuk listrik.
• Penyekat-penyekat khusus harus dipergunakan, bila perlu untuk menjaga nilai isolasi tertentu.
• Bila kabel dipasang tegak lurus dipermukaan yang terbuka, maka harus dilindungi dengan pipa baja dengan tebal 3 mm setinggi minimum 2,5 m.
2.1.5. Saluran Penghantar Dalam Bangunan
• Untuk instalasi penerangan di daerah yang menggunakan ceiling gantung, saluran penghantar (conduit) dipasang diatas rak kabel dan digantung tersendiri diatas ceiling.
• Untuk instalasi saluran penghantar di luar bangunan, dipergunakan saluran beton, kecuali untuk penerangan taman, dipergunakan pipa galvanized φ 2". Saluran beton dilengkapi dengan Hand-hole untuk belokan-belokan (pekerjaan beton ini harus sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam PBI -1971).
• Setiap saluran kabel dalam bangunan dinding dipergunakan pipa conduit
• PVC minimum φ 3/4". Setiap pencabangan ataupun pengambilan saluran ke luar harus menggunakan junction box yang sesuai dan sambungan yang lebih dari satu harus menggunakan terminal strip di dalam junction box.
• Ujung pipa kabel yang masuk dalam panel dan junction box harus dilengkapi dengan "Socket / lock nut", sehingga pipa tidak mudah tercabut dari panel. Bila tidak ditentukan lain, maka setiap kabel yang berada pada ketinggian muka lantai sampai dengan 2 m harus dimasukkan dalam pipa. Dan pipa harus diklem ke bangunan pada setiap jarak 50 cm.
2.2. Instalasi Sakelar dan Stop Kontak (Outlet)
2.2.1. Sakelar-Sakelar
Sakelar-sakelar harus dari jenis rocker mekanisme dengan rating 10 A/ 250 V, sakelar pada umumnya dipasang inbow kecuali disebutkan lain pada gambar. Jika tidak ditentukan lain, sakelar-sakelar tersebut bingkainya harus dipasang rata pada tembok pada ketinggian 150 cm diatas lantai yang sudah selesai kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas.
Sakelar-sakelar tersebut harus dipasang dalam kotak-kotak dan ring, (standar). Sambungan-sambungan hanya diperbolehkan antara kotak-kotak yang berdekatan.
146

2.2.2. Stop Kontak
Stop kontak haruslah dengan tipe yang memakai earthing contact dengan rating 10 A, 16 A, 25 A, 250 V AC.
Semua pasangan stop kontak dengan tegangan kerja 220 V harus diberi saluran ke tanah (grounding). Stop kontak harus dipasang rata dengan permukaan dinding dengan ketinggian 30 cm dari atas lantai yang sudah selesai atau wall duct outlet sesuai gambar rencana atau petunjuk Konsultan Pengawas.

2.3. Instalasi Fixtures Penerangan
2.3.1. U m um
Fixture penerangan harus dari jenis yang tertera dalam gambar. Harus dibuat dari bahan yang sesuai dan bentuknya harus menarik dan pekerjaannya harus rapih dan baik, tebal plat baja yang dipakai untuk housing fixture minimum 0,7 mm. Pemborong harus menyediakan contoh-contoh dari semua fixture yang akan dipasang kepada Perencana/ Konsultan Pengawas untuk disetujui.

2.3.2. Kabel-Kabel untuk Fixture
Kecuali ditunjuk atau dipersyaratkan lain, kabel-kabel untuk "fixture" harus ditutup asbestos dan tahan panas. Tidak boleh ada kabel yang lebih kecil dari 2,5 mm², kawat-kawat harus dilindungi dengan "tape" atau "tubing" disemua tempat dimana mungkin ada abrasi.
Semua kabel-kabel harus disembunyikan dalam konstruksi armature kecuali dimana diperlukan penggantungan rantai atau kalau pemasangan/perencanaan fixture menunjuk lain. Tidak boleh ada sambungan kabel dalam suatu armature dan penggantungan dan harus terus menerus utuh mulai dari kotak sambung ke terminal-terminal khusus pada armature-armature lampu. Saluran-saluran kabel harus tidak tajam dan dilindungi sehingga tidak merusak kabel.

2.3.3. Lampu-lampu
Semua fixture harus dilengkapi dengan lampu-lampu dan dipasang sesuai dengan persyaratan dan gambar. Untuk lampu pijar memakai lamp holder dan base type edison screw, untuk lamp holder type edison screw kabel netral tidak boleh dihubungkan ke centre control, kecuali dipersyaratkan lain. Lampu fluorescent haruslah dari jenis cool white atau sesuai perencanaan.
Semua lampu fluorescent atau lampu lainnya yang memerlukan perbaikan factor daya harus dilengkapi dengan capacitor. Dalam spesifikasi ini besarnya "microfarad" (μf) dari kapasitor untuk setiap lampu tidak terlalu ditekankan karena yang dibutuhkan adalah hasil akhir dari power factor menjadi sekurang-kurangnya 0,95.
2.3.4 Instalasi Kabel Ke kWH meter
Jenis kabel dari panel kWH ke panel-panel adalah NYY. Kabel disusun rapih dalam rak kabel yang berada diatas koridor, kemudian kabel
147
turun ke dinding menuju panel. Dari rak kabel menuju ke panel toko, kabel harus berada dalam Flexible conduit PVC.

2.4. Instalasi / Konstruksi Panel
2.4.1. Kabinet
Semua kabinet harus dibuat dari plat baja dengan tebal minimum 2 mm, atau dibuat dari bahan lain seperti polyester atau bakelite. Kabinet untuk "panel board" mempunyai ukuran yang proposionil seperti dipersyaratkan untuk panel board, yang besarnya sesuai dengan ukuran pada gambar perencana atau menurut kebutuhan sehingga untuk jumlah dan ukuran kabel yang dipakai tidak terlalu penuh/ padat.
Frame/rangka panel harus digrounding/ditanahkan pada kabinet harus ada cara-cara yang baik untuk memasang, mendukung dan menyetel "panel board" serta tutupnya. Kabinet dengan kabel-kabel "trough feeder" harus diatur sedemikian sehingga ada saluran dengan lebar tidak kurang dari 10 cm untuk branch circuit panel board. Setiap kabinet harus dilengkapi dengan kunci-kunci. Untuk satu kabinet harus disediakan 2 (dua) buah anak kunci, dengan sistem master key.
2.4.2. Finishing
Semua kabinet harus dicat dengan warna yang ditentukan oleh Perencana/ Konsultan Pengawas. Semua kabinet dari pintu-pintu untuk panel listrik, harus dibuat tahan karat dengan dengan cara "galvanized cadmium plating" atau dengan "zinc chromatic primer". Selain yang tersebut diatas, harus dilapisi dengan lapisan anti karat yaitu sebagai berikut :
• Bagian dalam dari box dan pintu.
• Bagian luar dari box yang digalvanisir atau cadmium plating tak perlu dicat kalau seluruhnya terpendam, kalau dipakai zinc chromate primer harus dicat dengan cat bakar.
2.4.3. Pemasangan Panel
Pemasangan panel sedemikian rupa sehingga setiap peralatan dalam panel dengan mudah masih dapat dijangkau, tergantung dari pada macam/tipe panel. Maka bila dibutuhkan alas/ pondasi/ penumpu/ penggantung maka pemborong harus menyediakannya & memasangnya sekalipun tidak tertera pada gambar.
2.4.4. Panel Distribusi Utama
Panel distribusi utama harus seperti tertera pada gambar, kecuali ditunjuk lain. Seluruh assembly termasuk housing, busbar, alat-alat pelindung harus direncanakan, dibuat, dicoba dan dimana perlu diperbaiki sesuai dengan persyaratan. Panel distribusi utama harus dari jenis in door type terbuat dari plat baja tebal minimum 2 mm.
Konstruksi harus terbuat dari rangka baja struktur yang kaku, yang bisa mempertahankan strukturnya oleh strees mekanis pada waktu hubung singkat . Rangka ini secara lengkap dibungkus pada bagian bawah, atas dan sisi dengan plat-plat penutup (metal clad) harus
148
cukup louvers untuk ventilasi dimana perlu untuk mengatasi kenaikan suhu dari bagian-bagian yang mengalirkan arus dan bagian-bagian yang bertegangan sesuai dengan persyaratan PUIL-2000 LMK/ VDE untuk peralatan yang tertutup. Material-material yang bertegangan harus dicegah dengan sempurna terhadap kemungkinan percikan air. Semua meteran dan tombol transfer yang dipersyaratkan harus dikelompokkan pada satu papan panel yang berengsel yang tersembunyi.
2.4.5. Papan Nama
Seluruh kabinet, panel kontrol, panel listrik, pemutus daya (CB), saklar, dan bagian-bagian lainnya dari peralatan, jika tidak disebutkan dalam hal-hal lain, harus dibuatkan papan nama untuk mengindikasi/ mengindentifikasi/ penggunaan nama alat tersebut. Papan nama harus terbuat dari back plat stainless steel dengan huruf digravier timbul.
Untuk keseluruhan, papan nama harus berukuran 1,5 inches (3,81 cm) tinggi dengan lebar seperlunya dengan tinggi huruf 1,0 inches (2,54 cm), untuk ukuran yang lebih kecil dimana penutupnya terbatas gunakan 1,5 inches (3,81 cm) tinggi dari plat. Dan ketebalan plat minimum 3 mm.
2.4.6. Busbar / Rel
Busbar harus dari bahan tembaga yang lapisan luarnya dilapis dengan lapisan perak dengan ukuran sesuai dengan kemampuan arus 150 % dari arus beban terpasang yang ukurannya disesuaikan dengan aturan PUIL (daftar no. 630-DI-D4/PUIL 1987). Semua busbar/rel harus dicat dan dipegang oleh bahan isolator dengan kuat dan baik ke rangka panel. Semua busbar/rel harus dicat dengan warna yang sesuai dengan disebutkan pada PUIL. Cat-cat tersebut harus tahan sampai temperatur 75 °C.
Busbar disusun dan dipegang oleh isolator dengan baik untuk sistem 3 φ, 4 kawat seperti ditunjuk dalam gambar. Setiap panel harus mempunyai bus netral yang diisolir terhadap tanah dan sebuah bus penatanahan yang telanjang diklem dengan kuat pada frame dan panel dilengkapi klem untuk pentanahan. dari panel peralatan perlu diketanahkan minimum 2 Ω.
Gambar-gambar pelaksanaan (shop drawing) harus menunjukkan ukuran-ukuran dari bus-bus dan susunannya . Ukuran dari bus harus ukuran sepanjang panel dan harus disediakan cara-cara untuk penyambungan dikemudian hari.
2.4.7. Teminal dan Mur-baut
Semua terminal cabang harus diberi lapisan tembaga (ver-tin) dan disekrup dengan menggunakan mur-baut ring dari bahan tembaga atau mur-baut yang diberi nikel (atau stainless) dengan ring tembaga.
2.4.8 Cadangan/Penyambungan dikemudian hari
Bila dalam gambar dinyatakan adanya cadangan maka ruangan-ruangan tersebut harus dilengkapi dengan busbar, klem-klem pemasangan, pendukung dan sebagainya, untuk peralatan yang
149
dipasang dikemudian hari dapat berupa equipment busbar, panel baru, switch, circuit breaker dan lain-lain.
2.4.9. Alat-alat ukur
Setiap panel harus dilengkapi dengan alat-alat ukur seperti pada gambar. Meter-meter adalah dari type "moving iron vane type" khusus untuk panel, dengan scale sirkular, flush atau semi flush, dalam kotak tahan getaran, dengan ukuran 144 x 144 mm atau 96 x 96 mm, dengan skala linier dan ketelitian 1,5%. Posisi dari saklar putar untuk voltmeter (Voltmeter Selector Switch) harus ditandai dengan jelas.
2.4.10. Transformator Arus
Trafo arus adalah dari type kering, dalam ruangan type jendela dengan perbandingan kumparan yang sesuai dengan ketelitian 0,3 dengan burden sesuai dengan standar-standar VDE. Pemasangan harus kuat dan dapat menahan gaya-gaya dan mekanis pada waktu terjadinya hubungan singkat 100 kA. Trafo arus untuk Ampere-meter juga boleh dipergunakan bersamaan dengan kWH meter asalkan ketelitiannya masih baik. Bila tidak baik maka harus dipergunakan trafo arus khusus.
2.4.11. Kabel-kabel Pengontrol
Kabel pengontrol dari panel-panel harus dipasang di pabrik/ bengkel secara lengkap serta dibundel dan dilindungi terhadap kerusakan mekanis. Ukuran minimum adalah 1,5 mm2 dari type 600 Volt.
2.4.12. Merk Pabrik
Semua peralatan pengaman harus diusahakan buatan satu pabrik, peralatan-peralatan sejenis harus dapat saling dipindahkan dan ditukar tempatnya pada frame.
2.4.13. Peralatan Pengamanan Pemutus Daya
Peralatan pengaman adalah pemutus daya dengan rumah tuangan, thermal dan magnetis trip dengan breaking capacity yang cukup (sesuai beban) pada panel induk minimal 60 kA.

2.4.14. Pilot lamp
Semua tutup muka panel dilengkapi dengan :
Pilot lamp untuk menyatakan adanya tegangan R, S dan T.
Penyediaan dari Pilot lamp yang disebutkan diatas merupakan keharusan, biarpun pada gambar-gambar tidak tertera.
Warna-warna untuk pilot lamp :
• Untuk phasa R : warna merah
• Untuk phasa S : warna kuning
• Untuk phasa T : warna biru.

3. MOTOR LISTRIK
150
Semua motor listrik harus sesuai dengan klasifikasi DIN, baik dalam segi proteksi, isolasi pengaman, cara operasi, pemasangan dan lain-lain.
Untuk motor-motor dengan rating :
• Sampai dengan 2 kVA - 1 phasa / 3 phasa
• 2 kVA keatas - 3 phasa
Kecuali ditentukan lain oleh manufakturer.
Starting
Untuk motor-motor dengan rating
• Sampai dengan 4 kVA, starting langsung
• Diatas 4 kVA, dengan star delta starter
Semua peralatan bantu/tambahan untuk starting ini harus sudah termasuk di dalam lingkup pekerjaan Pemborong.
4. KABEL TEGANGAN RENDAH (NYY, NYFGbY, NYM) 380 V
4.1. U m u m
Spesifikasi ini menjelaskan persyaratan bagi kabel tegangan rendah yang harus memenuhi persyaratan kemampuan melakukan arus pada temperatur 35 °C, temperatur maximum kabel dalam keadaan berbeban tidak boleh melebihi 70 °C dan temperatur maksimum kabel untuk arus hubung singkat tidak boleh lebih 250 °C.

4.2. Konstruksi
Kabel harus terdiri atas :
1. Dua atau empat penghantar yang terbuat dari kawat tembaga pilin atau tembaga "compacted" yang dipilin.
2. Lapisan isolasi bahan PVC pada setiap penghantar phasa maupun penghantar netral.
3. Lapisan pengendap yang tahan air dikelilingi urat-urat penghantar phasa dan pengisi ruangan diantara kawat phasa.
4. Lapisan pengendap kedua diluar lapisan pengendap diatas.
5. Pelindung dari pita bahan diatas lapisan pengendap kedua sesuai dengan persyaratan IEC (NYFGbY).
6. Diluar lapisan pelindung pipa baja diberi lapisan plastik sebagai pelindung.
Penampang kabel yang digunakan adalah :
�� 6 mm²
�� 10 mm²
�� 16 mm²
�� 25 mm²
�� 35 mm²
�� 150 mm²
�� 50 mm²
�� 70 mm²
�� 95 mm²
�� 240 mm²
�� 120 mm²
�� 185 mm²
151
4.3. Penandaan/ Warna
Warna permukaan kabel sebagai tanda-tanda untuk setiap kawat adalah :
Phasa :
merah
netral : biru
kuning
Hitam

5. BUSBAR TRUNKING
Busduct harus memenuhi standar internasional :
�� IEC 726.
�� IEC 439 - 2.
�� BS 5486 / 2.
�� JIS. C 8364.
�� AFTA.
�� Housing busduct harus terbuat dari plat besi dengan ketebalan minimal 2 mm dan harus di hotdip galvanized (untuk perlindungan terhadap karat terutama didaerah dengan tingkat kelembaban yang tinggi serta harus dilengkapi dengan penguat sepanjang bodi busduct untuk memper-kuat terhadap tekanan/gaya mekanikal pada waktu terjadi arus hubung singkat.
�� Busbar harus diisolasi dengan polyethylen telephalate class B (bukan bahan PVC) dimana mempunyai sifat tidak merambatkan api jika kebakaran dan dapat menahan panas sampai 130°C.
�� Housing busduct harus type tertentu seluruhnya untuk pengamanan terhadap kerusakan secara mekanis pengumpulan debu dan tetesan air oleh karena itu derajat proteksinya minimal harus dari IP 54 sesuai dengan standar internasional.
�� Susunan dari konduktor harus type sandwic, kompak dan impedansi rendah untuk mendapatkan sifat kelistrikan yang baik sehingga mempunyai susut tegangan yang rendah (kurang dari 3% untuk panjang 100 m) dan dapat mengeliminir efek cerobong jika terjadi kebakaran.
�� Konduktor harus terbuat dari tembaga yang dielectrolytik dengan kemurnian minimum 99,9 % dan berbentuk segi empat dengan sisa ujung atap dan bawah berbentuk bulat hal ini untuk mengurangi kerapatan dari elektron karena sifat listrik yang mengumpul pada bagian yang runcing.
�� Kenaikan temperatur pada setiap bagian dari busduct pada beban normal tidak boleh melebihi 55 °C pada ambient temperatur 40 °C.
�� Setiap sambungan harus dapat menyerap pemuaian panjang temperatur karena terjadinya panas yang disebabkan oleh mengalirnya arus nominal pada konduktor sehingga pemuaian panjang yang disebabkan oleh panas tidak diperlukan dan menjadikan busbar beban dari perawatan setelah terpasang.
�� Kemampuan arus hubung singkat harus sesuai dengan standar internasional (IEC 439) untuk waktu ± 1 detik.
152
�� Panjang maksimum dari busduct adalah 4,5 meter hal ini untuk mengurangi dari pada sambungan serta mengurangi pekerjaan.
�� Pada waktu pengiriman, suplier dari busduct harus menyertakan petunjuk-petunjuk dan cara-cara untuk memudahkan pekerjaan dan penyimpanan dari busduct, petunjuk cara pemasangan busduct dilapangan serta dileng-kapi gambar kerja /shop drawing.
�� Suplier harus dapat menunjukkan certificat of origin, hasil test (short circuit test) dan hubungan singkat pabrik yang mengeluarkan busduct tersebut.
6. FIRE RESISTANCE CABLE
- Konstruksi pembuatan fire resistance cable harus sesuai dengan IEC PUB 331, 1970.
- Konduktor harus terbuat dari tembaga pilin (stranded) yang terdiri dari beberapa inti.
- Konduktor dilapis berturut-turut dengan lapisan tahan api terbuat dari mika (fire proof micca tape wound), isolasi polyethylene dan lapisan PVC.
- Ketebalan lapisan fire proof mica tape minimum 0,5 mm2.
- Kabel harus dapat menahan interferensi induksi listrik.
- Untuk pengenalan jumlah urat, kabel harus diberi warna yang jumlahnya sesuai dengan jumlah uratnya.
- Kabel harus mampu menahan api/panas 750 °C untuk selama 3 jam.
- Tegangan nominal kabel adalah 600 Volt.
7. FIRE STOP MATERIAL
Fire Stop Material digunakan untuk melindungi kabel atau mencegah menjalarnya api melalui kabel listrik dan pipa-pipa pada area shaft dan bukaan dinding.
Sistem Fire Stop Material yang direncanakan mempunyai persyaratan material sebagai berikut :
- Bersifat flexible dan mudah dibongkar pada waktu penambahan atau penggantian kabel baru.
- Tidak ada sifat bahannya yang nantinya akan mengeluarkan debu.
- Tahan akan getaran dan tidak mudah retak.
- Tidak beracun dan berbau.
- Tahan panas sampai 1000 0C.
- Tidak beraksi atau menyerap air.
- Pemasangan dapat digunakan pada tempat yang lembab.
- Dilengkapi dengan ROCK WOOL panels, raw idensity ≥ 140 kg/m3 dan memenuhi BS 476 Part : 4 -1970, Temperature Fire max. 750 0C, ketahanan fibre melting point 1000 0C.
- Dilengkapi dengan HISEAL.
153
Yang dicakup dan harus dipasang dalam lingkup pekerjaan Sistem Fire Stop material ini, meliputi :
a. Pengadaan dan pemasangan Fire stop material antara lain : ruang-ruang shaft dan lubang-lubang sparing yang ada pada tiap-tiap Lantai.
b. Pemasangan dan pengawasan dilakukan oleh tenaga yang berpengalaman dan atau tenaga ahli dari pabrik.
c. Pemasangan Fire Stop Material pada shaft Elektrikal dilakukan sebanyak - banyaknya 2 (dua) lapis dan shaft mekanikal 1 (satu) lapis, ketebalan lapisan pertama minimal 2 mm dan seterusnya.
8. RAK KABEL
Bahan : Hot Palled mild steel plate and strip
Standard : JIS G 3131
Type : Ladder Tray
9. PANEL HVDP
Peralatan listrik panel HVDP umum meliputi antara lain :
• Cubicle, SF6 LBS + fuse
• Metering
• Sistem pembumian
• Dan lain-lain
Konstruksi dan Deskripsi Umum
a. Panel dari jenis pemasangan dalam (indoor type). diperkuat dengan rangka baja dan disiapkan untuk penempatan di sepanjang dinding atau berdiri bebas (free standing switchgear), extendable type.
b. Panel adalah "Factory Assembled" dan "Type Tested". Kalau dikarenakan sesuatu hal pengiriman panel ini harus terdiri atas dua bagian (atau lebih) maka perlu menjadi perhatian dan keharusan hal-hal sebagai berikut :
• Pemisahan ini sudah disiapkan terlebih dahulu oleh manufacturer/ pabrik sedemikian rupa sehingga komponen-komponen panel seperti cubicles, rangka, busbar dan lain-lain serta semua peralatan/ komponen-komponen penyambungannya sudah disiapkan dan disesuaikan.
• Pada pengirimannya maka semua bagian/ komponen panel yang terpisah ini pada bungkusnya atau pada kolinya harus diberi kode/ tanda yang jelas atau cara lain agar pada waktu akan dirakit tidak akan mengalami kesulitan atau salah pasang.
c. Panel didukung oleh rangka baja/metal yang dilapisi oleh bahan anti karat / korosi berupa proses "anodizing" atau cara lainnya, panel ditutup dengan penutup dari bahan plat besi dengan tebal minimum 3 mm dilapisi dengan cat dasar dan cat akhir dari jenis "EPOXY RESIN PAINT" dengan warna abu-abu (RAL - 7032).
Ukuran terbesar satu unit panel/kubikel :
154
�� Lebar
: 800 mm
�� Kedalaman
: 1.300 mm
�� Tinggi
: 2.100 mm
d. Kubikel/panel adalah dari type "metal enclosed" dan secara umum terdiri atas :
• Kompartemen busbar
• Kompartemen load break switch, trafo arus, trafo tegangan, saklar pembumian dan lain-lain.
• Kompartemen tegangan rendah/pengukuran.
Kompartemen busbar terhadap kompartemen load break switch sekalipun tidak sepenuhnya terisolir oleh plat pemisah pada saat beroperasi, namun demikian pemisahan ini haruslah dimungkinkan untuk keadaan maintenance/ pemeliharaan.
Hal diatas dilaksanakan dengan jalan sebagai berikut :
Pada saat LBS sedang dalam keadaan "off position", sebuah plat pengaman (protection plate) dapat dimasukkan sedemikian rupa sehingga memisahkan/ menutup kompartemen busbar dari kemungkinan terjangkau dan mengikuti serta memenuhi "Tingkat Pengaman", IP,4X/VDE.0670, 1981/IEC.298,1980.
e. Antar satu kubikel terhadap kubikel lainnya dibatasi dengan partisi dari bahan "Hot Rolled Galvanized Steel". Partisi antar kubikel ini dilengkapi dengan "Cutout" untuk jalannya busbar. Cutout ini dilengkapi/ditutupi dengan "Bushing Plate".
f. Interlock
Untuk menjamin operasi dan keamanan manusia beberapa interlock diadakan antara lain :
• Pintu kubikel baru akan terbuka apabila Load Break Switch berada pada posisi keluar (off position/earthed).
• LBS tak dapat bekerja kecuali apabila bagian "Withdrawable" berada pada posisi service atau posisi test.
• Sakelar pembumian tak dapat ditutup kecuali bila bagian "Withdrawable" ada pada posisi test atau terbuka.
• Pintu kompartemen LBS dapat dibuka apabila plat partisi/ plat pemisah telah dimasukkan.
g. Pada setiap pintu harus dipasang "inspection window" dari bahan "plexy-glass".
h. Dilengkapi dengan terminal penyambungan dari bahan "Tinned-Copper" pada terminal penyulang kabel sedemikian rupa memungkinkan penyambungan terminal "sealing-ends" kabel yang buka dari bahan tembaga.
155
i. Pada bagian luar dari panel harus digambarkan mimic diagram dari pada sistem panel ini. Mimic diagram ini harus terbuat sehingga jelas terbaca baik sistem maupun peralatan-peralatannya.
j. Menggunakan konduktor tembaga bulat yang dipasang diatas "cast resin insulation". Tiap kubikel dilengkapi dengan alat pemanas dibagian bawahnya yang terdiri dari tahanan atau lampu pijar (anti condestion heater).
10. PERALATAN LISTRIK
10.1 Peralatan Panel MDP/SDP
10.1.1 Circuit Breaker Motor Operated
Rating Arus
:
sesuai gambar rencana
Insulation Rating
:
750 V AC, Voltage rating : 380 V, 50 Hz, 4 Pole
Rated Breaking Cap
:
70 kA (500 V, 50 Hz) dengan Arc chute.
R e l a y
:
Thermis dan magnetis over current release, under voltage release, Auxiliary contact block (2 NO+1 NC).
D r i v e
:
Motor, 220 V, 50 Hz.
10.1.2 Moulded Case Circuit Breaker
Insulation Rating
:
380 V
Dilengkapi dengan
:
Thermal release dan electromagnetic over current release
Rating Arus In
:
Sesuai gambar perencanaan
Rated Breaking Cap
:
Minimal 50 kA
10.1.3 Trafo Arus
Insulation Rating
: 600 Volt
C l a s s
: 1,5
I therm
: 60 x In
Rated secondary current
: 5 A
Rated burden cap
: 10 VA
10.1.4 Rotary Switch (On-Off Cam Switch)
Rated Tegangan
: 500 V ZC
Rated Arus max.
: 63 A
Pemasangan pada "base plate"
Jumlah pole
: 4 pole
156
10.1.5 Ampere Meter
C l a s s
: 1,5
Over load cap
: 1,2 x In Continue
Ukuran
: 90 x 90 mm
Skala
: 0 - 3.000 A
Type
: Moving Iron, untuk pengukuran AC
Ketelitian
: ± 1,5 % untuk pengukuran AC
10.1.6 Volt Meter
C l a s s
: 1,5
Over load cap
: 1,2 x In Continue
Ukuran
: 90 x 90 mm
Skala
: 0 - 500 A
Ketelitian
: ± 1,5 % untuk pengukuran AC
10.1.7 kWH - Meter
Rated voltage
: 3 x 380 Volt
Rated current output transformer
: 5 A
Ocuracy class
: 2,0
Baseplate of moulded plastic
The register
: 6 (six) cipher rollers double pengukur
10.1.8 Lampu Indikator
Tubular lamp, pijar 5 watt, diameter 54 mm
Warna
: merah, kuning, biru
10.1.9 Push Button
Panel mounting, double on-1, off-0. Semua push button dilengkapi dengan lampu indikator untuk menyatakan sistem dalam on atau off.
10.1.10 Relay - relay
Untuk panel LVMDP, circuit breaker untuk feeder Utama, dilengkapi dengan relay proteksi OL (over load), SC (short circuit) dan UV (under voltage).
Sedangkan untuk generator, dilengkapi dengan relay OL, SC, UV, EF (Earth Fould) dan RP (Reverse Power).
10.1.11 Selector Switch
Dari type rotary switch, untuk switching. Rated voltage 380 Volt AC insulation 660 V.
11.2 Panel Penerangan dan Daya
157
• Panel harus dibuat dari plat baja galvanized tebal plat 2 mm, lipatan dan bentuk sudut plat melalui proses mekanis.
• Peralatan panel penerangan :
a. Moulded Case Circuit Breaker (MCCB)
Rating Tegangan
: 380 V, 50 Hz
Type
: Compact
Breaking Cap.
: 18 kA
b. Kontaktor
Rating Arus
: 10 A, 16 A, 25 A
Rating Tegangan
: 380 V, 50 Hz
Pole
: 3 pole
c. Miniature Circuit Breaker
Rated voltage
:
380 Volt, 50 Hz
Breaker cap
:
10,0 kA (380 V) minimum
T y p e
:
yang mempunyai "Instantenous tripping value" sebesar 12 (dua belas) kali arus In
11.3 Material Untuk Instalasi
11.3.1 Grid Switch
Rocker mekanisme, modular, rating 10 A, 220 Volt AC.
T y p e
: Decorative
P l a t e s
: Steel
11.3.2 Sakelar Tunggal / Ganda
Rocker mekanisme, modular, rating 10 A, 220 Volt AC.
T y p e
: Decorative push-push, flush, segi empat
P l a t e s
: Standard
11.3.3 Socket Outlet/ Outlet dan Swicth Type Dinding
Type
: Flush
Terminal
: 2 P + e, 220 V, AC 10 A
Untuk outlet + swicth
: 10 A / 16 A
Bentuk
: Persegi dengan outlet, swicth, pilot lamp
12. FIXTURES DAN ARMATURE
12.1 Armature Lampu / Fixtures TL
a. Armature TL 2 x 36 Watt Recessed Mounting (TKI)
• Housing
:
Bahan plat besi 0,7 pembuatan harus dengan mesin, peralatan lampu built in.
158
• Semua komponen listrik berada di dalam rumahan/ housing (built in).
Konstruksi rumahan harus kuat dan kokoh serta dibuat sedemikian rupa agar mudah dapat dibuka/dilepas untuk perbaikan/penggantian komponen yang berada di dalamnya. Seluruh rumahan harus dilapisi dengan cat dasar, serta diberi lapisan cat akhir berwarna putih. Pengecatan dengan cara "stove enamelled/ bake enamelled" (cat bakar).
Seluruh armature harus lengkap dengan rangka dudukan/gantunganya.
b. Armature TL 2 x 36 Watt dan 2 x 18 Watt, Open Type/ TKO
• Armature merupakan jenis open type.
• Seluruh perlengkapan dan pengerjaan armature seperti spesifikasi butir a diatas.
c. Armature TL 1 x 36 Watt dan 1 x 18 Watt, Open Type/ Balk.
• Seluruh perlengkapan dan pengerjaan armature seperti spesifikasi butir a diatas.
12.2 Lampu/ Tube/ Bulb Fluorescent
a. Lampu Fluorescent/TL 36 Watt Standar
• Lampu Fluorescent gas discharge tube type, standar, warna putih type TLD 84.
• Ballast dengan maximum losses ± 9,5 Watt, 220 Volt.
• Lumen output minimum ± 2.500 lumen (setelah 100 jam nyala).
b. Lampu TL 20 Watt
• Lampu type standar, warna putih type TLD 54.
• Ballast dengan maximum losses ± 9 Watt, 220 Volt.
• Lumen output minimum ± 1.050 lumen (setelah 100 jam nyala).
12.3. Komponen Lampu TL
a. B a l l a s t
Ballast harus leak proof, mempunyai temperature kerja rendah, noise-less, ballast dengan rumahan dari bahan polyester. Untuk lampu TL dengan 2 (dua) lampu disusun/digunakan "twin lamp ballast" 2 (dua) ballast (anti stroboscopic).
Rated tegangan 220 Volt. Rugi-rugi/losses ballast tidak lebih besar dari :
�� TL 15 Watt, losses max. 7,5 Watt
�� TL 20 Watt, losses max. 9,0 Watt
�� TL 40 Watt, losses max. 9,5 Watt
Ballast harus dilengkapi dengan connection terminal.
b. Lamp Holder dan Starter Holder (Sochets)
Lamp holder dan starter holder dari material white plastic, unobtrusive dan touchproof. Lamp holder dan starter holder antri vibration contact. Rating lock lamp holder type,
159
dengan atau tanpa starter socket yang disesuaikan dengan rumahan yang digunakan.
c. S t ar t e r
Starter untuk lamp fluorescent mempunyai reliability. Terbuat dari high quality white polycarbonate. Rating starter disesuaikan dgn rating lampu TL.
12.4 Lampu Baret Persegi
Rumah lampu terdiri dari plat baja tebal 0,7 mm dengan tutup dari bahan Acrylic yang tahan panas dan tak berubah warna bagian tepi lampu memakai karet untuk menjamin kekedapan.
�� Daya
: 20 Watt /220 V, 50 Hz
�� Type
: Persegi TL Bulat
12.5 Lampu Washtafel
Sistem pentanahan yang dilaksanakan harus berdasarkan standar-standar dan kode-kode yang berlaku, antara lain :
�� Daya
:
1 x 20 Watt /220 V, 50 Hz
�� Type
:
Persegi lengkap cover acrylic tahan panas dan tak berubah warna. Disekeliling housingnya dilengkapi karet, kedap terhadap udara luar dan solid.
12.6 Lampu Jalan
�� Housing terbuat dari bahan fibre glass
�� Methacrylic bowl yang berkualitas tinggi
�� Reflector Alluminium
�� Diagram distribusi cahayasinar rekomendasi CIE
�� Pemasangan Reflector kaca dikencangkan dengan klips
�� Komponen (Ballast, capacitor dll) dapat dipasang dan dilepas secara mudah
�� Lampu High Pressure Sodium (SON) 150 Watt
�� Bentuk / model ditentukan landskap
13. Sistem Pentanahan
13.1 Lingkup Pekerjaan
a. Pengadaan dan pemasangan sistem pentanahan body (tegangan sentuh) terhadap seluruh peralatan listrik yang terbuat dari metal, yaitu : panel TM, transformator, panel penerangan, daya dan lain-lain.
b. Penyambungan pentanahan netral dari terminal transformator ke elektroda pentanahan.
c. Sistem pentanahan (grounding system) maksimal 3 Ω.
d. Penyambungan sistem pentanahan Mesh/ Loop dengan Bare Standard
160
e. Copper Conductors 70 mm² didalam pipa konduit menuju ke elektroda Rod di dalam bak kontrol.
13.2 Standar dan Kode-Kode yang Berlaku
Sistem pentanahan yang dilaksanakan harus berdasarkan standar-standar dan kode-kode yang berlaku, antara lain :
• British Standard, BS.CP.1013 mengenai pentanahan.
• Underwriters Laboratories Standard UL. 467, Standar untuk Safety On Grounding dan Bounding Equipment.
• Dan lain-lain standar yang berlaku di Indonesia.
13.3 Sistem Pentanahan
• Pemborong harus melaksanakan pekerjaan pentanahan ini sesuai gambar perencanaan.
• Sistem pentanahan menggunakan beberapa Elektroda Rods/Earth Rod dan satu sama lain saling dihubungkan sehingga membentuk hubungan secara Mash.
• Pemborong harus memperhatikan kondisi tahanan jenis tanah yang ada agar didapatkan satu sistem pentanahan yang baik.
13.4 Pekerjaan dan Alat Bantu
Setiap penyambungan/ pencabangan dari konduktor harus menggunakan "Cadweld Connection". Dapat juga menggunakan klem penyambung sistem jepit dengan gigi banyak dengan memperhatikan hal-hal :
a. Bahan klem harus bahan yang telah digalvanized atau di Treatment tertentu sehingga tidak akan berproses apabila kontak dengan jenis metal yang lain.
b. BC pada titik/tempat penyambungan harus di "tinned".
c. Disarankan agar tempat penyambungan setelah selesai disambung, dibungkus dengan bahan tertentu, misalnya sejenis epoxy dan lain sebagainya.
Bila ada terminasi yang menggunakan terminal jenis sepatu kabel maka harus memperhatikan hal-hal :
a. Sepatu kabel yang digunakan harus mempunyai 2 (dua) lubang baut.
b. Harus dari bahan anti karat dan telah di treatment agar tidak akan berproses bila kontak dengan jenis metal lainnya.
14. Testing dan Commisioning
14.1 Sesudah semua pemasangan Instalasi dan Sistem
Setelah seluruh instalasi selesai terpasang dan sistem telah dilaksanakan, maka harus dilakukan pengetesan disaksikan oleh Pemilik/Konsultan Pengawas dan Perencana minimum 1 minggu sebelumnya diberitahukan secara tertulis.
161
Biaya testing tersebut dan lain-lain menjadi beban Pemborong disertai dengan Berita Acara Testing dan Commissioning.
14.2 Sebelum dilakukan penyerahan Instalasi di lapangan
Sebelum penyerahan instalasi harus di test dihadapan Pemilik proyek/MK dan Perencana dengan kapasitas beban maksimum dan secara terus menerus selama 3 x 24 jam.
Apabila selama proses pengetesan berlangsung terjadi kerusakan Pemborong harus mengembalikan seperti dalam keadaan semula secepatnya dan atas beban/tanggungan pelaksana pekerjaan
162
II. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN INSTALASI PENANGKAL PETIR
1. Lingkup Pekerjaan
Yang dicakup dalam lingkup pekerjaan instalasi penangkal petir ini meliputi :
�� Pengadaan/ penyediaan dan Pemasangan Splitzen (terminal) dari instalasi Penangkal Petir.
�� Pengadaan/ penyediaan dan pemasangan konduktor
�� Pengadaan/ penyediaan dan pemasangan sistem pentanahan.
2. Ketentuan-ketentuan Teknis
�� Protector Splitzen (head terminal)
�� Protector head yang dipakai adalah "Sistem Kompensional" yang mempunyai bentuk perlindungan terhadap penangkal petir.
�� Konduktor untuk instalasi penangkal petir digunakan kabel BC 50 mm².
�� Pentanahan
Dalam sistem pentanahan digunakan electroda pentanahan yang terbuat dari batang tembaga dengan φ 3/4" massif. Pada ujung bawah batang ini harus dibuat runcing sepanjang 50 cm. Panjang batang tembaga sebagai electroda pentanahan minimal 12 (dua belas) meter. Maksimum tahanan pentanahannya 3 Ω.
3. Pemasangan
�� Splitzen (head terminal)
Splitzen (head terminal) harus dipasang pada ujung batang peninggi yang kuat, dimana terminal harus dapat dilepas dari batang peninggi bila diperlukan untuk pemeriksaan. Splitzen (head terminal) harus disanggah oleh pipa yang cukup kuat dan dapat berdiri dengan kokoh dan tegak lurus pada ketinggian seperti terlihat pada gambar perencanaan.
�� Konduktor
− Konduktor yang digunakan adalah kabel BC 50 mm² dipasang pada bangunan dan diklem secara rapat dan lurus tanpa ada sambungan menuju bak kontrol.
− Sebelum sampai pada bak kontrol, konduktor supaya diberi perlindung dari PVC φ 1 ½ " sehingga ± 2 meter dari permukaan tanah.
− Sambungan konduktor dengan grounding menggunakan klem yang dapat dibuka/ dilepas didalam bak kontrol.
�� Bak kontrol
Bak kontrol terbuat dari pasangan batu bata dengan ukuran 40 x 40 x 40 dan diberi tutup dari beton sehingga dapat dibuka untuk pemeriksaan.
4. Pengujian
163
�� Pengujian/ pengetesan digunakan untuk mengetahui baik tidaknya sistem pentanahan agar dapat dipakai sebagai jaminan. Pengujian dilakukan dengan metode yang dikeluarkan oleh PLN, LMK, PUIL, atau PUIPP (Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir).
�� Pengetesan dilakukan dengan cara :
− Grounding resistent test tahanan pentanahannya diukur melalui metode standard.
− Continuity test.
III. PERSYARATAN BAHAN DAN PERALATAN
1. U m u m
Semua material atau peralatan yang disuplai dan dipasang oleh Pemborong harus baru dalam arti bukan barang bekas atau hasil perbaikan dan material tersebut harus cocok untuk dipasang di daerah tropis. Material-material haruslah dari produk dengan kualitas baik dari produksi terbaru.
2. Material atau peralatan harus mempunyai kapasitas atau rating yang cukup.
3. Harus sesuai dengan spesifikasi teknis atau persyaratan.
4. Bila dianggap perlu kontraktor boleh memilih kapasitas yang lebih besar dengan syarat-syarat :
− Tidak menyebabkan sistem menjadi lebih sulit
− Tidak menyebabkan penambahan bahan
− Tidak menyebabkan penambahan ruang
− Tidak menyebabkan penambahan biaya
5. Untuk material-material yang disebut di bawah ini maka Pemborong harus menjamin bahwa barang tersebut adalah baik dan baru dengan jalan menunjukkan surat order pengiriman dari dealer/agen/pabrik.
− Peralatan panel : Switch, circuit breaker, relay-relay dan kontraktor.
− Peralatan lampu : Armature, bola lampu, ballast dan kapasitor
− Peralatan Instalasi : Stop kontak, saklar.
− K a b e l : NYM, NYY, NYFGbY, BC, XLPE
− In Door Cable Stel-K-002/SII.0621-82
164
DAFTAR MATERIAL
No.
M a t e r i a l
M e r k
1.
Kabel tegangan rendah NYY, NYM, NYA, NYFGbY.
Kabelindo, Kabel Metal, Supreme, Tranka kabel
2.
Kabel tegangan menengah.
Kabelindo, Kabel Metal, Supreme
3.
Busbar Trunking
Kyodo, Henikwon, Ciama
4.
Panel TM Type SF. 6
Alsthom, ABB, VEI
5.
Box panel TR
AEG, Simetri, Allco Star
Box panel Toko
Hager, SAIP
6.
Transformator
Unindo, Trafindo
7.
Rak kabel
Metosu, Interak
8.
Conduit, flexible conduit
EGA, Clipsal
9.
ACB, MCCB, Fuse, Switch
MG, AEG, GE, ABB, KM
10.
Contactor
AEG, Telemecanique, GE, MG
11.
Isolasi kabel
3M
12.
Armature
Metosu, Interlite, Lucolite
13.
Obstruction lamp
Philips, GE
14.
Emergency lamp
Hitz, Menvier.
15.
Saklar tunggal
MK, Merten, Berker
16.
Saklar ganda
MK, Merten, Berker
17.
Stop kontak
MK, Merten, Berker
18.
Grid Switch
MK
29.
Inbow Dosh, T Dosh
MK, Berker, Merten
20.
Ballast
Philips, GE
21.
Lamp holder
Philips, Vosloch, Swabe.
22.
Tube TL
Philips, GE
23.
Starter
Philips, GE
24.
Kunci panel
Dom
25.
Automatic Capacitor Bank
MG, Alpipar, AEG, Nokian
26.
Relay
Crompton, SEG
27.
Alat Ukur
Carlogapazi, AEG, MG
28.
Penangkal petir
Konpensional

DASAR KOMPETENSI KEJURUAN DAN KOMPETENSI KEJURUAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

DASAR KOMPETENSI KEJURUAN DAN KOMPETENSI KEJURUAN
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

BIDANG STUDI KEAHLIAN : TEKNOLOGI DAN REKAYASA
PROGRAM STUDI KEAHLIAN : TEKNIK KETENAGALISTRIKAN
KOMPETENSI KEAHLIAN : 1. TEKNIK PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK (008)
2. TEKNIK DISTRIBUSI TENAGA ISTRIK (009)
3. TEKNIK TRANSMISI TENAGA LISTRIK (010)
4. TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK (011)
5. TEKNIK OTOMASI INDUSTRI (012)





A. DASAR KOMPETENSI KEJURUAN

STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Menganalisis rangkaian listrik 1.1 Mendeskripsikan konsep rangkaian listrik
1.2 Menganalisis rangkaian listrik arus searah
1.3 Menganalisis rangkaian listrik arus bolak-balik
1.4 Menganalisis rangkaian kemagnetan.
2. Menggunakan hasil pengukuran 2.1 Mendeskripsikan konsep pengukuran besaran-besaran listrik
2.2 Melakukan pengukuran besaran listrik
2.3 Menganalisis hasil pengukuran besaran besaran listrik.
3. Menafsirkan gambar teknik listrik 3.1 Menerapkan standarisasi dan normalisasi gambar teknik ketenagalistrikan
3.2 Menafsirkan gambar instalasi ketenagalistrikan industri
3.3 Menafsirkan gambar berbasis rele dan komputer.

4. Melakukan pekerjaan mekanik dasar 4.1 Mendeskripsikan cara penggunaan peralatan tangan
4.2 Mendeskripsikan cara penggunaan peralatan mesin
4.3 Menggunakan peralatan tangan dan mesin untuk menyelesaikan pekerjaan mekanik listrik.
5. Menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) 5.1 Mendeskripsikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
5.2 Melaksanakan prosedur K3.






























B. KOMPETENSI KEJURUAN
1. Teknik Pembangkit Tenaga Listrik (008)
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Memahami sistem pembangkitan tenaga listrik sesuai dengan sumber energi yang tersedia 1.1 Memahami konsep penggerak mula (prime mover) dalam sistem pembangkitan tenaga listrik
1.2 Mengidentifikasi jenis-jenis energi sebagai penggerak mula
1.3 Mengklasifikasikan pembangkit tenaga listrik berdasarkan kapasitas dan konsep konversi energi
2. Mengoperasikan generator unit pembangkit 2.1 Memahami konsep pengoperasian generator pembangkit
2.2 Mengoperasikan unit generator pembangkit
2.3 Melakukan pencatatan pengontrolan parameter operasional generator.
3. Melakukan pengaturan tegangan dan frekuensi operasional generator pembangkit 3.1 Menjelaskan pengaturan tegangan dan frekuensi unit generator pembangkit
3.2 Menjelaskan batasan pengaturan tegangan kerja generator
3.3 Menjelaskan batasan pengaturan kecepatan/frekuensi operasional generator
3.4 Meelaksanakan pengaturan tegangan dan frekuensi operasional generator.
4. Melakukan pengaturan beban pada unit generator pembangkit 4.1 Menjelaskan pengaturan beban pada unit generator
4.2 Menjelaskan pengaturan beban sesuai dengan karakteristik pembebanan unit generator pembangkit
4.3 Melakukan kerja paralel unit generator pembangkit.
5. Menanggulangi gangguan operasional unit generator pembangkit 5.1 Mengidentifikasi gangguan pada unit generator pembangkit
5.2 Mengklasifikasi jenis gangguan unit generator pembangkit
5.3 Memperbaiki gangguan unit generator pembangkit.
6. Mengoperasikan PLC pada sistem operasi unit generator pembangkit 6.1 Memahami operasional PLC pada unit generator pembangkit
6.2 Menggunakan parameter operasional (program) pengoperasian unit generator pembangkit berbasis PLC
6.3 Menggunakan PLC untuk pengoperasian unit generator pembangkit secara otomatis.
7. Mengoperasikan SCADA sistem pengoperasian unit generator pembangkit 7.1 Menjelaskan operasional SCADA
7.2 Menggunakan SCADA dalam pengoperasian unit generator pembangkit secara otomatis.
8. Memelihara baterai 8.1 Mendeskripsikan standar karakteristik operasional baterai
8.2 Menjelaskan teknik pemeliharaan baterai
8.3 Memeriksa baterai sesuai dengan karakteristik operasional baterai
8.4 Melakukan pengisian baterai (bateray charging).
9. Menggunakan instrumen kontrol 9.1 Mengklasifikasikan alat ukur kontrol
9.2 Menjelaskan teknik pemeliharaan alat ukur kontrol pembangkit
9.3 Mendeskripsikan standar operasi normal instrumen kontrol
9.4 Mengkalibrasi instrumen kontrol
9.5 Mengoperasikan instrumen kontrol.
10. Memasang proteksi pembangkit 10.1 Memahamipemeliharaan proteksi
10.2 Memahamistandar pemutusan proteksi
10.3 Menguji proteksi pembangkit
10.4 Mengatur setting proteksi pembangkit.
11. Menguji switch gear 11.1 Mengoperasikan switch gear berdasarkan fungsi operasionalnya
11.2 Memahami pemeliharan switch gear
11.3 Melakukan penyetelan switch gear
11.4 Melakukan pengetesan operasional switch gear.
12. Menguji DC power dan peralatan rectifier 12.1 Memahami pemeliharaan DC power dan peralatan rectifier
12.2 Memahami standar operasional DC power dan peralatan rectifier
12.3 Mengukur tegangan dan arus DC power sesuai dengan karakteristik kebutuhan DC power unit pembangkit.
13. Menguji unit generator pembangkit 13.1 Memahami pemeliharaan generator pembangkit
13.2 Mengklasifikasikan generator berdasarkan fungsi dan karakteristik operasional generator pembangkit
13.3 Memahamiparameter standar pengujian generator
13.4 Mengukur tahanan isolasi unit generator pembangkit.
14. Memasang peralatan proteksi 14.1 Menjelaskan cara pemasangan peralatan proteksi pada sistem pembangkit
14.2 Merancang pemasangan peralatan proteksi pada sistem
14.3 Melakukan pemasangan peralatan proteksi.
15. Memasang peralatan kontrol unit generator pembangkit berbasis relay 15.1 Memahami pemasangan peralatan kontrol unit generator pembangkit berbasis relay
15.2 Merencanakan pemasangan peralatan kontrol unit generator berbasis relay
15.3 Melakukan pengawatan peralatan kontrol berbasis relay.
16. Memasang peralatan kontrol unit generator pembangkit berbasis PLC/SCADA 16.1 Memahami pemasangan peralatan kontrol unit generator pembangkit berbasis PLC/SCADA
16.2 Merencanakan pemasangan peralatan kontrol unit generator berbasis PLC/SCADA
16.3 Melakukan pengawatan peralatan kontrol berbasis PLC/SCADA.
17. Memasang panel listrik pembangkit 17.1 Memahami pemasangan panel pembangkit
17.2 Mengklasifikasikan panel pembangkit tenaga listrik berdasarkan fungsi pelayanan
17.3 Merencanakan pemasangan peralatan dan pengawatan panel unit generator
17.4 Memasang komponen dan pengawatan panel.
18. Memasang unit generator pembangkit 18.1 Memahami pemasangan unit generator pembangkit
18.2 Memahami standar pemasangan unit generator
18.3 Melakukan pemasangan stator dan rotor generator.
18.4 Melakukan pemasangan exciter
18.5 Melakukan pemasangan dan penyambungan kabel daya pada terminal generator dan switch gear.










2. Teknik Distribusi Tenaga Listrik (009)
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Memasang alat pengukur dan pembatas (APP) 1.1 Menjelaskan cara kerja APP
1.2 Menyiapkan peralatan dan bahan pemasangan APP
1.3 Memasang APP fasa tiga pengukuran langsung
1.4 Memasang APP fasa tiga dengan transformator arus (TA) tegangan rendah (TR).
2. Memasang alat ukur 2.1 Menjelaskan cara kerja alat pengukur fasa tiga tegangan menengah
2.2 Menyiapkan peralatan dan bahan pemasangan alat pengukur fasa tiga tegangan menengah
2.3 Memasang alat bantu pengukuran
2.4 Memasang rele arus lebih untuk pembatas daya.
3. Memasang saluran tegangan rendah 3.1 Menjelaskan cara pemasangan saluran kabel tegangan rendah
3.2 Menyiapkan peralatan dan bahan pemasangan saluran tegangan rendah
3.3 Memasang kabel dan konektor saluran udara tegangan rendah (SUTR)
3.4 Memasang peralatan hubung bagi tegangan rendah (PHBTR)
3.5 Memasang saluran udara tegangan rendah (SUTR)
3.6 Memasang instalasi pembumian.
4. Memasang saluran tegangan menengah 4.1 Menjelaskan cara pemasangan saluran kabel tegangan menengah (SKTM)
4.2 Menyiapkan peralatan dan bahan pemasangan saluran tegangan menengah
4.3 Memasang saluran kabel dan saluran udara tegangan menengah (SUTM)

4.4 Memasang kotak sambung dan kotak ujung saluran kabel tegangan menengah
4.5 Memasang peralatan penghubung/ pemisah
4.6 Memasang kotak ujung dan kotak sambung saluran kabel udara tegangan menengah
4.7 Memasang indikator gangguan tanah.
5. Mengoperasikan sambungan pelanggan 5.1 Memahami sambungan pelanggan
5.2 Menerapkan prosedur pengoperasian
5.3 Mengoperasikan sambungan pelanggan
5.4 Memeriksa hasil pengoperasian.
6. Mengoperasikan saluran kabel tegangan rendah dan opstig tegangan rendah baru 6.1 Memahami operasional saluran kabel tegangan rendah (SKTR) dan opstig tegangan rendah baru
6.2 Menerapkan prosedur pengoperasian
6.3 Mengoperasikan SKTR dan kabel optik baru
6.4 Memeriksa hasil pengoperasian.
7. Mengoperasikan peralatan hubung bagi tegangan rendah baru 7.1 Memahami operasional peralatan hubung bagi tegangan rendah baru
7.2 Menerapkan prosedur pengoperasian
7.3 Mengoperasikan PHB-TR
7.4 Memeriksa hasil pengoperasian.
8. Mengoperasikan semi automatic change over pada jaringan tegangan rendah 8.1 Memahami pengoperasian change over semi automatic pada jaringan tegangan rendah
8.2 Menerapkan prosedur pengoperasian
8.3 Mengoperasikan SACO
8.4 Memeriksa hasil pengoperasian.
9. Mengoperasikan saluran udara dan saluran kabel tegangan rendah ( SUTR ) 9.1 Memahami saluran udara dan saluran kabel tegangan rendah (SUTR)
9.2 Menerapkan prosedur pengoperasian
9.3 Mengoperasikan SUTR baru
9.4 Memeriksa hasil pengoperasian.
10. Memperbaiki gangguan pada sistem alat pembatas dan pengukur 10.1 Memahami jenis gangguan pada sistim alat pembatas dan pengukur
10.2 Melaksanakan pemeriksaan gangguan
10.3 Melacak gangguan
10.4 Memperbaiki gangguan pada system alat pembatas dan pengukur.
11. Mengoperasikan saluran kabel tegangan menengah 11.1 Menjelaskan teknik pengoperasian saluran kabel tegangan menengah baru
11.2 Menerapkan prosedur pengoperasian
11.3 Mengoperasikan jaringan SKTM
11.4 Memeriksa hasil pengoperasian.
12. Mengoperasikan saluran udara tegangan menengah baru 12.1 Memahami saluran udara tegangan menengah baru
12.2 Menerapkan prosedur pengoperasian
12.3 Mengoperasikan saluran udara tegangan menengah baru
12.4 Memeriksa hasil pengoperasian.
13. Mengoperasikan pole top switch/load break switch 13.1 Memahami pole top switch/load break switch
13.2 Menerapkan prosedur pengoperasian
13.3 Mengoperasikan PTS/LBS
13.4 Memeriksa hasil pengoperasian.
14. Mengoperasikan penutup balik automatic/saklar semi otomatic 14.1 Memahami penutup balik automatic/ saklar semi automatic
14.2 Menerapkan prosedur pengoperasian
14.3 Mengoperasikan PBO dan SSO
14.4 Memeriksa hasil pengoperasian.

15. Mengoperasikan automatic voltage regulator dan kapacitor voltage regulator 15.1 Memahami pengatur tegangan otomatik dan kapacitor voltage
15.2 Menerapkan prosedur pengoperasian
15.3 Mengoperasikan automatic voltage regulator (AVR) dan capacitor voltage regulator (CVR)
15.4 Memeriksa hasil pengoperasian.
16. Memelihara peralatan pendukung sistem distribusi 16.1 Memaham ikonsep pemeliharaan peralatan pendukung sistem distribusi
16.2 Memelihara instalasi APP pengukuran langsung
16.3 Memelihara instalasi APP pengukuran tidak langsung
16.4 Memelihara sistem komunikasi suara
16.5 Memelihara instalasi detektor gangguan pentanahan
16.6 Memelihara sistem penyearah dan inverter.
17. Memasang peralatan bantu sistem distribusi 17.1 Memahami pemasangan peralatan bantu sistim distribusi
17.2 Menyiapkan pemasangan peralatan bantu sistim distribusi
17.3 Memasang tranformator distribusi
17.4 Memasang panel distribusi
17.5 Memasang gardu distribusi.











3. Teknik Transmisi Tenaga Listrik (010)
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Memelihara peralatan elektronik 1.1 Memahami prosedur pemeliharaan peralatan elektronik
1.2 Mengidentifikasi gangguan pada peralatan elektronik
1.3 Mengatasii gangguan pada peralatan elektronik
1.4 Menguji coba hasil perbaikan peralatan elektronik.
2. Memelihara peralatan komunikasi 2.1 Memahami prosedur perawatan peralatan Komunikasi
2.2 Mengidentifikasi gangguan pada peralatan Komunikasi
2.3 Mengatasi gangguan peralatan Komunikasi
2.4 Menguji coba hasil perbaikan peralatan Komunikasi.
3. Memelihara sarana penunjang 3.1 Memahami prosedur perawatan sarana penunjang
3.2 Mengidentifikasi gangguan pada sarana penunjang
3.3 Mengatasi gangguan sarana penunjang
3.4 Menguji hasil perbaikan sarana penunjang.
4. Memelihara sistem kelistrikan 4.1 Membuat gambar sketsa sistem kelistrikan pada jaringan transmisi dan
4.2 Memahami fungsi bagian-bagiannya
4.3 Mengidentifikasi prosedur perawatan sistem kelistrikan
4.4 Mengidentifikasi gangguan pada sistem kelistrikan
4.5 Mengatasi gangguan pada sistem kelistrikan
4.6 Menguji hasil perbaikan sistem kelistrikan.
5. Memelihara instrumen kontrol dan proteksi 5.1 Memahamii karakteristik instrumen kontrol dan proteksi
5.2 Memahami prosedur perawatan instrumen kontrol dan proteksi
5.3 Mengidentifikasi gangguan pada instrumen kontrol dan proteksi
5.4 Mengatasi gangguan pada instrumen kontrol dan proteksi
5.5 Menguji coba hasil perbaikan instrumen kontrol dan proteksi.
6. Memasang isolator dan kelengkapannya 6.1 Mengklasifikasikan jenis isolator dan kelengkapannya
6.2 Memahami cara pemasangan isolator dan kelengkapannya
6.3 Memasang isolator dan kelengkapannya
6.4 Memeriksa dan menguji hasil pemasangan isolator dan kelengkapannya.
7. Memelihara isolator dalam kondisi bertegangan 7.1 Memahami prosedur perawatan isolator
7.2 Membersihkan debu pada isolator dengan hotline washer
7.3 Mengganti isolator dalam kondisi bertegangan
7.4 Memeriksa dan menguji hasil penggantian isolator dalam kondisi bertegangan.
8. Menyambung kawat saluran udara 8.1 Memahami hantaran saluran udara dan karakteristik pembebanannya
8.2 Memahami teknik dan prosedur penyambungan kawat saluran udara
8.3 Melakukan penyambungan kawat saluran udara
8.4 Memeriksa dan menguji hasil penyambungan kawat saluran udara.
9. Memasang jumper konduktor switchgear 9.1 Mengklasifikasikankan jenis jumper konduktor switchgear
9.2 Mendiskripsikan teknik dan prosedur pemasangan jumper konduktor switchgear
9.3 Melakukan pemasangan jumper konduktor switchgear
9.4 Memeriksa dan menguji hasil pemasangan jumper konduktor switchgear.
10. Memasang konduktor ground wire 10.1 Memahami jenis penghantar pentanahan
10.2 Memahami teknik dan prosedur pemasangan konduktor ground wire
10.3 Melakukan pemasangan penghantar pentanahan
10.4 Memeriksa dan menguji hasil pemasangan penghantar pentanahan.
11. Memasang Instalasi penangkal petir dan pembumian gedung kontrol gardu induk 11.1 Memahamikoordinasi kerja sistem pembumian dengan peralatan pemutus tenaga
11.2 Mengklasifikasikan metoda melakukan pembumian dan penangkal petir
11.3 Memahami teknik dan prosedur pemasangan sistem pembumian dan penangkal petir
11.4 Memasang elektroda pembumian.
11.5 Memasang pengawatan sistem pembumian dan penangkal petir
11.6 Memeriksa dan menguji hasil pemasangan Instalasi penangkal petir dan pembumian gedung kontrol gardu induk.
12. Mengukur tahanan pembumian peralatan sistem tenaga listrik 12.1 Memahami prosedur pengukuran tahanan pembumian peralatan sistem tenaga listrik
12.2 Mengidentifikasi penggunaan alat pengukur tahanan pembumian
12.3 Melakukan pengukuran tahanan pembumian peralatan sistem tenaga listrik.
13. Mengukur tahanan isolasi menggunakan meger 13.1 Mendeskripsikan prosedur pengukuran tahanan isolasi sistem tenaga listrik
13.2 Memahami penggunaan alat pengukur tahanan isolasi
13.3 Mengukur isolasi jaringan listrik
13.4 Menguji isolasi peralatan jaringan listrik.
14. Mengukur tahanan kontak sambungan 14.1 Memahami pengukuran tahanan kontak sambungan
14.2 Memahami penggunaan alat ukur tahanan kontak sambungan
14.3 Melakukan pengukuran tahanan kontak sambungan.
15. Mengukur temperatur titik sambung 15.1 Memahami penggunaan alat ukur temperatur titik sambung
15.2 Memahami pengukuran temperatur titik sambung
15.3 Melakukan pengukuran temperatur titik sambung.
16. Mengukur rasio kumparan trafo daya 16.1 Memahami prinsip dan konstruksi transformator tiga fasa
16.2 Memahami karakteristik transformator daya
16.3 Memahami menghitung ratio kumparan trafo
16.4 Memahami penggunaan alat ukur ratio kumparan trafo
16.5 Melakukan pengukuran rasio kumparan trafo daya.
17. Memasang tap changer transformator daya 17.1 Memahami karakteristik pembebanan instalasi ketenagalistrikan
17.2 Memahami regulasi dan efisiensi jaringan transmisi
17.3 Memahami prosedur pemasangan tap changer transformator daya
17.4 Memahami pemasangan tap changer transformator daya
17.5 Memeriksa dan menguji hasil pemasangan tap changer transformator daya.
18. Mengganti minyak trafo 18.1 Memahamii sistem pendinginan dan isolasi pada transformator daya
18.2 Memahami prosedur penyaringan dan pengisian minyak trafo
18.3 Melakukan penyaringan dan pengisian minyak trafo
18.4 Memahami prosedur pemvakuman trafo
18.5 Melakukan pemvakuman trafo
18.6 Memeriksa/menguji hasil penyaringan minyak trafo.
19. Memelihara peralatan DC power 19.1 Memahami pemeliharaan peralatan DC power
19.2 Memahami peralatan DC power dalam rangka pemeliliharaan preventif
19.3 Mengidentifikasi gangguan pada peralatan DC power
19.4 Mengatasi gangguan pada peralatan DC power.





4. Teknik Instalasi Tenaga Listrik (011)
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Memahami dasar-dasar elektronika 1.1 Memahami konsep dasar elektronika
1.2 Memahami simbol komponen elektronika
1.3 Memahami sifat-sifat komponen elektronika pasif
1.4 Menggambar karakteristik komponen elektronika.
2. Memahami pengukuran komponen elektronika 2.1 Memahamiperalatan ukur komponen elektronika
2.2 Melakukan pengukuran komponen R
2.3 Melakukan pengukuran komponen C
2.4 Melakukan pengukuran komponen L
2.5 Memahami hasil pengukuran.
3. Merawat peralatan rumah tangga listrik 3.1 Memahami jenis peralatan rumah tangga listrik yang menggunakan alat pemanas
3.2 Memahami prosedur perawatan peralatan rumah tangga listrik menggunakan alat pemanas
3.3 Memahami jenis peralatan rumah tangga listrik yang menggunakan motor
3.4 Memahami prosedur perawatan peralatan rumah tangga listrik menggunakan motor listrik
3.5 Merawat peralatan rumah tangga listrik yang menggunakan alat pemanas dan motor
3.6 Memahami data sheet komponen peralatan rumah tangga yang menggunakan alat pemanas dan motor.
4. Memperbaiki peralatan rumah tangga listrik 4.1 Memahami cara perbaikan peralatan rumah tangga listrik
4.2 Memperbaiki peralatan rumah tangga listrik yang menggunakan alat pemanas dan motor
4.3 Memeriksa hasil perbaikan menggunakan alat ukur multimeter
4.4 Melakukan uji fungsi hasil perbaikan.
5. Memasang instalasi penerangan listrik bangunan sederhana 5.1 Memahami instalasi penerangan 1 fase
5.2 Menggambar rencana instalasi penerangan
5.3 Memasang instalasi penerangan di luar permukaan
5.4 Memasang instalasi penerangan di dalam permukaan
5.5 Memasang lampu penerangan, termasuk instalasi di dalam armatur lampu.
6. Memasang instalasi Tenaga Listrik Bangunan Sederhana 6.1 Memahami pemasangan instalasi tenaga listrik 1 fase
6.2 Menggambar rencana instalasi tenaga
6.3 Memasang instalasi tenaga di luar permukaan
6.4 Memasang instalasi tenaga di dalam permukaan
6.5 Memasang kotak-kontak 1 fase.
7. Memasang instalasi penerangan listrik bangunan bertingkat 7.1 Memahami instalasi penerangan 3 fase
7.2 Menggambar rencana instalasi penerangan
7.3 Memasang panel hubung bagi instalasi penerangan
7.4 Memasang instalasi kabel dan pemipaan
7.5 Memasang beban listrik penerangan 1 fase dalam sistem 3 fase.
8. Memasang instalasi tenaga listrik bangunan bertingkat 8.1 Memahami pemasangan instalasi tenaga listrik 3 fase
8.2 Merencanakan panel hubung bagi 3 fase instalasi tenaga
8.3 Memasang panel hubung bagi 3 fase instalasi tenaga
8.4 Memasang kotak-kontak 3 fase.
9. Memperbaiki motor listrik 9.1 Memahami cara perbaikan motor listrik
9.2 Membongkar kumparan motor
9.3 Melilit kumparan motor
9.4 Memeriksa hasil lilitan kembali
9.5 Melakukan uji fungsi motor hasil lilitan ulang.
10. Mengoperasikan sistem pengendali elektronik 10.1 Memahami prinsip pengoperasian sistem pengendali elektronik
10.2 Merencanakan rangkaian kendali elektronik sederhana
10.3 Membuat rangkaian kendali elektronik sederhana
10.4 Mengoperasikan sistem kendali elektronik
10.5 Memahami data operasi sistem kendali elektronik
10.6 Melakukan tindakan pengamanan pada sistem kendali elektronik yang mengalami gangguan.
11. Mengoperasikan peralatan pengendali daya tegangan rendah 11.1 Memahami prinsip kerja pengoperasian peralatan pengendali daya tegangan rendah
11.2 Menerapkan prosedur pengoperasian sistem kelistrikan
11.3 Mengoperasikan peralatan pengendali daya tegangan rendah
11.4 Memahami data operasi peralatan pengendali daya tegangan rendah

11.5 Melakukan tindakan pengamanan pada operasi peralatan pengendali daya tegangan rendah yang mengalami gangguan.
12. Mengoperasikan sistem pengendali elektromagnetik 12.1 Memahami prinsip kerja pengoperasian sistem kendali elektromagnetik
12.2 Mengoperasikan sistem pengendali elektromagnetik
12.3 Memahami data operasi sistem kendali elektromagnetik
12.4 Mengoperasikan mesin produksi dengan pengendali elektromagnetik
12.5 Melakukan tindakan pengamanan pada operasi sistem kendali elektromagnetik yang mengalami gangguan.
13. Memasang sistem pentanahan instalasi listrik 13.1 Mengemukakan jenis-jenis orde pentanahan
13.2 Mengemukakan prosedur pemasangan sistem pentanahan instalasi
13.3 Mengukur tahanan pentanahan.
13.4 Memahami hasil pengukuran tahanan pentanahan
13.5 Memasang orde pentanahan.
14. Merawat panel listrik dan switchgear 14.1 Memahami perbaikan panel listrik dan switchgear
14.2 Memahami jenis-jenis panel listrik dan switchgear
14.3 Melakukan perawatan ringan panel kontrol
14.4 Melakukan perawatan ringan panel tenaga
14.5 Melakukan perawatan ringan switchgear.


5. Teknik Otomasi Industri (012)
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Mengoperasikan sistem kendali berbasis elektromekanik 1.1 Memahami operasional sistem kendali berbasis relai elektromagnetik
1.2 Menggunakan sakelar manual
1.3 Menggunakan komponen relai elektromagnetik
1.4 Menggunakan komponen relai penunda waktu
1.5 Menggunakan komponen relai pencacah
1.6 Membuat sirkit kendali berbasis elektromekanik.
2. Mengoperasikan sistem kendali elektronik 2.1 Memahami operasional relai elektronik
2.2 Menggunaan Transistor bipolar untuk keperluan switching atau driver
2.3 Menggunakan SCR, untuk mengatur arus DC
2.4 Menggunakan Triac untuk mengatur arus AC
2.5 Mengoperasikan sistem kendali elektronik
2.6 Membuat sirkit kendali elektronik.
3. Mengoperasikan sistem kendali digital 3.1 Memahami sistem logika digital
3.2 Memahami dasar gerbang logika
3.3 Membuat sirkit kendali digital.
3.4 Menguji coba sirkit kendali digital
4. Mengoperasikan sistem mikroprosesor 4.1 Memahami prinsip operasi mikroprosesor
4.2 Memahami antarmuka sistem kendali berbasis mikroprosesor
4.3 Memahami perangkat keras mikroprosesor
4.4 Memahami bahasa pemrograman asembly.
5. Mengoperasikan sistem kendali elektropnumatik 5.1 Memahami operasional sistem kendali elektropneumatik
5.2 Mengetes kondisi dan unjuk kerja peralatan kendali elektropneumatik
5.3 Memahami diagram alir sistem kendali elektropneumatik
5.4 Menggunakan berbagai elemen masukan dan sensor pneumatik untuk keperluan otomas industri
5.5 Menggunakan berbagai aktuator pneumatik untuk keperluan otomasi industri
5.6 Menggunakan berbagai jenis katub pengarah untuk keperluan otomasi industri.
6. Mengoperasikan sistem sensor/transducer 6.1 Memahamioperasional berbagai jenis sensor/transducer
6.2 Mengetes kondisi operasional berbagai jenis sensor/transducer
6.3 Menggunakan sensor posisi, proksimitas, dan beban sesuai keperluan otomasi industri
6.4 Menggunakan sensor suhu, tekanan, dan aliran fluida, sesuai keperluan otomasi industri.
7. Mengoperasikan sistem aktuator dan motor 7.1 Memahami operasional sistem aktuator elektromekanik
7.2 Memahami operasi berbagai Aktuator dan motor listrik
7.3 Mengetes berbagai piranti aktuator
7.4 Mengetes berbagai motor listrik
7.5 Menggunakan berbagai aktuator, dan motor listrik, untuk keperluan otomasi industri
7.1 Menggunakan motor DC magnet permanen untuk keperluan otomasi industri
7.6 Menggunakan berbagai jenis motor induksi untuk keperluan otomasi industri.
8. Mengoperasikan PLC 8.1 Memahami operasional PLC
8.2 Men-setup PLC
8.3 Memasang modul PLC beserta piranti input dan output eksternal
8.4 Menggunakan bahasa pemrograman Ladder Diagram
8.5 Menggunakan bahasa pemrograman Instruction List
8.6 Menggunakan bahasa pemrograman FBD
8.7 Menggunakan PLC untuk keperluan sistem otomasi industri.
8.8 Mengoperasikan PLC untuk keperluan sistem otomasi industri.
9. Mengoperasikan SCADA 9.1 Memahami perangkat keras SCADA
9.2 Memahami operasional SCADA
9.3 Memahami control loop pada RTU
9.4 Mengoperasikan SCADA untuk keperluan sistem otomasi industri.
10. Merakit sistem kendali berbasis relai untuk keperluan otomasi industri 10.1 Memilih bahan yang akan dirakit
10.2 Me-lay out system kendali yang akan dirakit
10.3 Merakit sirkit kendali berbasis relai
10.4 Mengetes sirkit kendali yang sudah dirakit.
11. Merakit sistem kendali elektropneumatik untuk keperluan otomasi industri 11.1 Memilih komponen kendali elektropneumatik yang akan dirakit
11.2 Me-lay out komponen
11.3 Merakit sistem kendali elektropneumatik untuk keperluan otomasi industri
11.4 Mengetes sistem kendali pneumatik untuk keperluan otomasi industri.
12. Merakit sistem PLC untuk keperluan otomasi industri 12.1 Memilih komponen sistem PLC/ SCADA yang akan dirakit
12.2 Mengatur tata letak komponen yang akan dirakit
12.3 Merakit sistem kendali berbasis PLC/ SCADA
12.4 Mengetes sistem kendali berbasis PLC/ SCADA yang sudah dirakit.
13. Memelihara sistem kendali elektrik untuk keperluan otomasi industri 13.1 Memahami pemeliharaan sistem kendali elektrik
13.2 Melakukan pemeliharaan preventif terhadap sistem kendali elektrik
13.3 Melacak gangguan pada sistem kendali elektrik
13.4 Mengatasi gangguan pada sistem kendali elektrik.
14. Memelihara sistem kendali pneumatik untuk keperluan otomasi industri 14.1 Memahami pemeliharaan sistem kendali pneumatik
14.2 Melacak gangguan pada sistem elektropneumatik
14.3 Mengatasi gangguan pada sistem pneumatik.
15. Memelihara sistem PLC/ SCADA untuk keperluan otomasi industri 15.1 Memahami pemeliharaan sistem PLC/ SCADA
15.2 Melacak ganguan pada sistem PLC/ SCADA
15.3 Mengatasi gangguan pada sistem PLC/ SCADA.

Minggu, 11 Oktober 2009

Tehknologi Imformasi

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam teknologi wireless dikenal beberapa istilah atau standar komunikasi, antara lain broadband (teknologi wireless yang memiliki kecepatan transfer data yang besar dan mampu menjangkau jarak hingga beberapa kilometer), Dalam teknologi wireless dikenal beberapa istilah atau standar komunikasi, antara lain broadband (teknologi wireless yang memiliki kecepatan transfer data yang besar dan mampu menjangkau jarak hingga beberapa kilometer), Wi-Fi (teknologi wireless yang umum digunakan untuk wireless Local Area Network / LAN), Bluetooth (teknologi wireless yang umumnya digunakan pada handphone). teknologi wireless yang akan dibahas pada materi ini yaitu Wi-Fi. Masing-masing teknologi wireless memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing terkait dengan kecepatan transfer data, jarak jangkau dan harga perangkat yang digunakan.
Materi pelajaran wireless ini tentu suatu hal yang sangat penting untuk para siswa agar dalam menimba ilmu khususnya pelajaran wireless mereka tidak merasa asing dengan pelajaran wireless yang diberikan oleh para tenaga pengajar.
Jaringan wireless ini digunakan untuk menghubungkan sekelompok jaringan yang diusahakan untuk dapat tersambung atau terhubung antara jaringan yang satu dengan jaringan yang lainnya tanpa menggunakan kabel.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Beberapa Jenis Perangkat Jaringan Wi-Fi

1. Wireless Access Point (WAP atau AP)
Merupakan perangkat yang menghubungkan berbagai perangkat komunikasi Wi-Fi dalam sebuah jaringan wireless. WAP biasanya terhubung dengan jaringan wired (seperti terhubung ke modem ADSL, router, switch, dll) dan dapat me-relay data antara perangkat wireless dan wired. Beberapa jenis WAP telah mengintegrasikan fungsi router didalamnya, sehingga WAP memiliki kemampuan router, seperti internet sharing, firewall, dan sebagainya. Perlu diperhatikan, WAP memiliki kapasitas maksimum klien yang dapat terhubung ke dalam jaringannya, biasanya berkisar antara belasan hingga 40 klien per WAP bergantung pada merk.

2. Wireless Network Adapter (WNA)
Perangkat ini terpasang di PC dan berfungsi modul komunikasi antara PC dengan jaringan wireless (baik Adhoc maupun Infrastruktur). Ada berbagai macam bentuk dan antarmuka yang digunakan, yaitu USB, PCI Slot, PCMCIA / PC Card, MiniPCI Slot, Intel Centrino.

B. Beberapa poin-poin yang perlu diperhatikan dalam konsep jaringan wireless
a. Alokasi Dana (budget)
Merupakan elemen terpenting, kebutuhan akan jaringan wireless dan perangkatnya akan disesuaikan dan diatur sesuai dengan dana yang tersedia. Melakukan studi kelayakan sebelum melakukan implementasi dapat membantu mengoptimalkan budget.
b. Cakupan Jaringan
Penentuan cakupan jaringan akan mempengaruhi jenis dan jumlah perangkat yang akan digunakan. Cakupan jarak dari jaringan dapat dipengaruhi oleh keberadaan tembok atau partisi. Untuk melakukan implementasi pada jarak yang lebih jauh harus digunakan AP dalam mode bridge atau dalam mode ESS (Extended Service Set).
c. Jumlah Klien
Faktor ini akan mempengaruhi jumlah AP yang akan digunakan, karena setiap AP memiliki kapasitas maksimum klien yang dapat dilayani dalam satu waktu. Umumnya AP hanya dapat melayani belasan hingga 40 klien, hal ini bisa diketahui dari spesifikasi teknis perangkat AP.
d. Keamanan
Umumnya perangkat AP memiliki fitur WEP dan atau WPA terintegrasi untuk mengamankan jaringan. Namun kadang hal ini tidak cukup baik, apalagi untuk implementasi pada level korporat, maka dapat digunakan perangkat wireless router. Umumnya perangkat AP sekarang telah mencakup wireless router, namun masih ada yang belum sehingga perlu dicermati lebih seksama dalam memilih perangkat yang akan digunakan.

e. Koneksi ke Jaringan Wired atau Internet
Apabila konektifitas ini belum tersedia, maka pengadaan untuk perangkat seperti modem, switch atau router perlu dipertimbangkan dalam implementasi.

f. Perangkat yang Telah Tersedia
Perlu diperhatikan ketersediaan interface pada perangkat yang sudah ada (seperti PC, notebook, PDA) untuk mempersiapkan tipe WNA yang akan dipasang. Contohnya pada umumnya notebook telah dilengkapi dengan perangkat Wi-Fi yang telah terintegrasi pada nya, sehingga dapat langsung digunakan dalam konfigurasi Adhoc atau Infrastruktur (bila telah tersedia perangkat AP).


C. Keuntungan Mode Infrastruktur Pada Jaringan Wi-Fi
a. Untuk sistem AP dengan melayani banyak PC tentu lebih mudah melakukan manajemen jaringannya dan komputer klien dapat mengetahui bahwa disuatu tempat ada sebuah perangkat atau komputer yang memancarkan sinyal AP dari sebuah jaringan.
b. Bila mengunakan perangkat khusus, maka tidak diperlukan sebuah PC berjalan setiap waktu untuk melayani klien pada jaringan. Umumnya perangkat AP dapat dihubungkan langsung ke sebuah switch atau sebuah jaringan LAN. Sehingga dapat memnghubungkan komputer yang menggunakan Wi-Fi untuk dapat masuk ke dalam sebuah jaringan.
c. Sistem keamanan pada AP lebih terjamin. Untuk fitur pengaman sebuah perangkat AP memiliki beberapa fitur seperti melakukan pemblokiran IP atau MAC address, membatasi pemakai pada port dan lainnya, seperti layaknya sebuah router

D. Workshop Wireless LAN
 Standar Wireless-LAN (W-LAN) untuk penggunaan di dalam ruangan adalah IEEE 802.11, dimana terdapat beberapa variasi sejak pertama kali 802.11 diperkenalkan dengan menggunakan frekwensi 2,4GHz dan bandwith hanya 2Mbps
 Hanya ada 11 kanal dalam bandwidth 83,5MHz, sehingga penggunaan radio menjadi amat terbatas
 Di Indonesia penerapan teknologi wireless diawali oleh grup-nya Onno W. Purbo di ITB, dengan menggunakan PC yang berisi Free BSD dan card PCMCIA WaveLAN untuk indoor aplication
 WaveLAN sendiri merupakan nama produk yang sekarang sudah dipasarkan dengan nama Orinoco dari Avaya
 Membuat Wireless-LAN yang murah, yang jarak-nya tidak bisa jauh








 Saat ini, industri di wireless sudah bisa membuat 'wireless in the box', kita tidak perlu lagi menggunakan PC, langsung menyambung antena dan kabel RJ-45 ke switch







 Selain Wireless in The Box, juga sudah tersedia versi USB yang ukurannya kecil







 Untuk yang outdoor sebetulnya harus mengikuti standar IEEE 802.16 untuk Wireless MAN atau WAN, tapi sampai saat ini belum ada kejelasan tentang sistem-nya
 Akhirnya, banyak indoor unit menggu-nakan amplifier atau penguat, yang sangat tidak dianjurkan
 Indoor Unit dengan antena luar, bisa maksimum sekitar 5 km, menggunakan Wireless In The Box : Compex atau Planet
 Outdoor Unit dengan antena luar, bisa sampai 40 km : WaveRider
 Kesulitan pemasangan sistem wireless harus mengikuti kaidah Line Of Sight (LOS)






 Contoh LOS dalam beberapa kondisi di lapangan








 Contoh Sambungan wireless dengan beberapa jarak







 Perangkat wireless LAN yang cocok untuk dipakai sebagai last-mile (point to multi point) adalah :
• WaveBolt dari Cirronet yang bisa menangani sampai 1.200 user, dengan kecepatan maksimum 961Kbps pada interface RJ-45
• DECLoop dari BBS yang digabung dengan kemampuan distribusi voice, dengan kecepatan 70Kbps atau 35Kbps jika digabung dengan voice








BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari beberapa uraian di atas,maka dapat disimpulkan yaitu sebagai berikut :
1. Para siswa dapat lebih mengetahui macam-macam perangkat jaringan Wi-Fi.
2. Siswa dapat mengetahui poin-poin penting dalam jaringan wireless.
3. Materi pelajaran Wi-Fi ini tentu sangat membantu para siswa untuk lebih mengetahui masalah dalam jaringan wireless.

B. Saran
1. Seharusnya peran guru sebagai tenaga pengajar lebih ditingkatkan lagi untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
2. Bagi para siswa sebaiknya lebih aktif lagi dalam proses belajar-mengajar untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dalam bidang computer.
3. Untuk kelancaran KBM hendaknya lembaga menyediakan sarana dan fasilitas yang lengkap untuk mendukung proses kegiatan belajar mengajar di dalam LAB TIK.

Sabtu, 10 Oktober 2009

PROGRAM KERJA OSIS SMKN 2 PALOPO TAHUN AJARAN 2008/2009

1. PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi

Sebagaimana kita maklumi, bahwa Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) merupakan satu-satuan organisasi siswa di sekolah yang menghimpun siswa dalam aktifitas ekstra kurikulum dan sedapat mungkin menunjang atau meningkatkan prestasi belajar siswa.

Untuk menunjang Renstra SMKN 2 Palopo khususnya dan tujuan pendidikan nasional pada umumnya, maka eksistensi Pembinaan siswa dalam wadah OSIS sangat relevan dan dibutuhkan dalam hal membina generasi muda sebagai kader-kader pemimpin masa depan yang terampil,tangguh dan handal.

Dalam rangka pembinaan ekstra kurikuler yang lebih efektif dan menunjang prestasi belajar siswa,maka perlu disusun suatu program kerja OSIS SMKN 2 Palopo tahun ajaran 2007/2008 yang lebih operasional.

B. Tujuan

Penyusunan Program kerja OSIS SMKN 2 Palopo tahun ajaran 2007/2008 bertujuan untuk :

(a) Memudahkan dalam menentukan arah pembinaan siswa pada umumnya dan OSIS pada khususnya.

(b) Memudahkan dalam penyusunan rencana anggaran setiap kegiatan / program OSIS.

2. PROGRAM KERJA OSIS SMKN 2 PALOPO TAHUN AJARAN 2000/2010

Kegiatan OSIS SMKN 2 Palopo tahun ajaran 2007/2008 meliputi :

1) Melaksanakan atau mengikuti kegiatan keagamaan.

2) Melaksanakan atau mengikuti kegitan hari-hari besar nasional.

3) Melaksanakan atau mengikuti kegiatan PORSENI.

4) Melaksanakan kegiatan penamatan/perpisahan siswa kelas III.

5) Melaksanakan atau mengikuti kegiatan kepramukaan.

6) Melaksanakan atau mengikuti kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK).

7) Melaksanakan atau mengikuti kegiatan Palang Merah Remaja (PMR).

8) Melaksanakan atau mengikuti kegiatan Paskibra.

9) Pembenahan kesekretariatan dan administrasi OSIS dan Pramuka.

10) Melaksanakan kegiatan Usaha Kegiatan Sekolah (UKS).

11) Mengaktifkan kegiatan Majalah Dinding(Mading).

12) Melaksanakan atau mengikuti kegiatan ekstra olahraga.

13) Melaksanakan atau mengikuti kegiatan ekstra seni.